Baru Kelar 2 Pekan, Tanggul BRR Sudah Retak-retak

Baru Kelar 2 Pekan, Tanggul BRR Sudah Retak-retak

- detikNews
Kamis, 04 Mei 2006 15:00 WIB
Baru Kelar 2 Pekan, Tanggul BRR Sudah Retak-retak
Banda Aceh - Tanggul penahan air laut yang baru dua minggu selesai dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD di Desa Alue Deah Tengoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, sudah retak-retak. "Tanggulnya pecah karena dihantam ombak," ujar seorang pekerja. Seorang pengawas para pekerja yang tak bersedia namanya disebutkan menjelaskan pada wartawan, tanggul itu hanya disiapkan untuk menahan air pasang bila pasang purnama datang. "Jadi memang disiapkan agar air laut tidak masuk ke perkampungan. Bukan tanggul penahan ombak," jelasnya, Kamis (4/5/2006). Karena hanya diperuntukkan menahan air pasang, konstruksi tanggul hanya disiapkan untuk menahan air laut, agar tidak merembes ke perkampungan di pinggir pantai tersebut. Jadi bukan untuk menahan ombak laut. Meski begitu, kerusakan tanggul sepanjang 1.900 meter yang dikerjakan kontraktor dari PT Piyeng Jaya Perkasa, masih menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana. "Sampai waktu enam bulan jika mengalami kerusakan, masih menjadi tanggung jawab kontraktor," ungkapnya. Dia juga menyesalkan komentar para anggota DPRD NAD yang menurutnya sudah menghakimi kontraktor pembuat tanggul tersebut. "Jadi tidak masalah, masih tanggung jawab kami sampai enam bulan ke depan," tukasnya. Pembicaraan HangatTanggul BRR yang retak-retak ini jadi pembicaraan hangat di Banda Aceh. Pasalnya, tanggul tersebut baru selesai dikerjakan sekitar 2 pekan. Tapi sepekan lalu, kondisi tanggul sudah retak-retak. Dari pantauan detikcom, hingga hari ini para pekerja terlihat berusaha menempel tanggul yang retak-retak tersebut dengan semen. Pada wartawan, Juru Bicara BRR Mirza Keumala mengatakan, BRR sudah menurunkan tim pada Rabu pekan lalu untuk melihat kondisi tanggul yang dilaporkan sudah error itu. "Nanti akan dilihat secara teknis apakah perlu dibongkar atau bagaimana. Penelitian kualitas bangunan juga tidak hanya pada bagian yang retak-retak, tapi juga pada bagian lain. Akan dikaji dan diteliti, sehingga kemungkinan tidak perlu dibongkar atau diatasi dengan cara lain," jelasnya. Sementara, anggota DPRD NAD yang sudah turun ke lokasi minta tanggul tersebut segera dibongkar karena justru akan mengancam ribuan warga di sekitar tanggul. Salah seorang warga, Naimah (60), yang rumahnya hanya berjarak sekitar 10 meter dari tangul tersebut juga menyesalkan retaknya tanggul yang dibangun di belakang rumahnya. "Padahal belum diresmikan, sudah rusak. Bagaimana mereka membangunnya?" katanya tak habis pikir.Naimah mengatakan, pembangunan tanggul memang dibutuhkan di kawasan itu setelah tsunami meluluhlantakkan kawasan tersebut. Tanggul yang dulunya membentengi desa itu sudah hancur diterjang tsunami. "Karena jika air laut pasang, terlebih jika pasang purnama, air laut sampai ke mari," imbuhnya. Menurutnya, tidak masuk akal jika tanggul itu rusak karena dihantam ombak. "Kalau dibilang dihantam ombak, mana ada laut tak berombak," tukas Naimah kesal. (nrl/)


Berita Terkait