Buruh Ditunggangi
Hidayat Nilai SBY Terlalu Jauh
Kamis, 04 Mei 2006 14:06 WIB
Jakarta - Ketua MPR Hidayat Nurwahid menilai pernyataan Presiden SBY bahwa kelompok yang tidak ikhlas pada Pemilu 2004 menunggangi aksi buruh 3 Mei adalah terlalu jauh. Namun Hidayat bisa memahami statemen SBY tersebut.Berikut ini wawancara wartawan dengan Hidayat soal pernyataan SBY dan revisi UU Ketenagakerjaan (UUK) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/5/2006):Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan SBY?Saya kira terlalu jauh juga kalau dikatakan bahwa ada pihak-pihak yang kurang legowo (lapang dada) karena kalah di tahun 2004. Tapi, posisi beliau yang berpayah-payah melobi negara Timur Tengah agar mau investasi, ketika membandingkan demo 1 Mei dan kemarin yang anarkis, tentu menyulitkan posisi beliau di luar negeri.Beliau menyatakan Indonesia aman, damai, dan kondusif, tapi terjadi anarkisme. Saya dapat memahami kalau beliau prihatin dan keluar kritik semacam itu.Jadi menurut Bapak itu berlebihan?Ini sesungguhnya permasalahan yang bisa diselesaikan kalau pemerintah sejak dari awal mendengar aspirasi buruh. Pemerintah tidak perlu berwacana mengenai hal itu karena UU (Ketenagakerjaan) itu baru saja beroperasi.Kalau ada yang menunggangi, sungguh-sungguh amat tidak manusiawi dan tidak beradab. Apakah yang kalah dalam pemilu atau yang hampir kalah, buruh jangan mau ditunggangi.Harapan Bapak agar suasana tidak semakin panas?Saya berharap siapa pun marilah kita bekerja secara maksimal.Pendapat Anda tentang UUK dan aksi buruh kemarin?Secara pribadi saya bagian yang mendukung agar buruh mendapat kesejahteraan. Kami bagian yang mendukung tuntutan buruh.Ada yang bilang aksi buruh dipicu oleh statemen pejabat pemerintah memanas-manasi buruh?Pemerintah jangan terkesan memanas-manasi terkait kesepakatan buruh dan DPR soal UUK. Ke depan, pemerintah, buruh dan DPR harus kerja sama.Persoalan UUK ini apakah karena buruh semata?Pemerintah dan pengusaha harus bekerja lebih kreatif, jangan buruh terus dijadikan kambing hitam. Karena terhambatnya investasi akibat banyak pungli. Jangan mengorbankan buruh untuk menghadirkan kepentingan yang lebih baik.
(nrl/)











































