KLHK Bakal Pimpin Isu Lingkungan & Perubahan Iklim di G20 2022

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 17:11 WIB
Presidensi G20 Digelar di Bali
Foto: Sylke Febrina/detikFinance
Jakarta -

Indonesia menjadi Presidensi G20 pada tahun 2022 dengan salah satu kelompok kerja adalah Lingkungan dan Perubahan Iklim (Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group atau EDM-CSWG). Masing-masing dipimpin oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan dan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

EDM-CSWG merupakan bagian dari topik utama yang fokus pada transisi energi, di samping kedua topik lainnya, yaitu kesehatan global serta transformasi digital dan ekonomi. Indonesia akan mengutamakan proses 'leading by example' dan kolaboratif antar seluruh negara anggota G20.

Glasgow Climate Pact yang diadopsi pada Conference of the Parties ke-26 United Nations Framework Convention on Climate Change atau COP 26 UNFCCC sangat menekankan komitmen negara-negara dalam mencapai tujuan Persetujuan Paris untuk membatasi kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius.

KLHK sebagai National Focal Point UNFCCC akan memimpin 20 negara terbesar dalam perekonomian dunia dalam emisi gas rumah kaca (GRK) dan dalam penurunan emisi GRK melalui isu prioritas mengenai pemulihan dari pandemi COVID-19 secara lebih berkelanjutan, peningkatan aksi-aksi berbasis daratan dan lautan untuk mendukung perlindungan lingkungan, dan mencapai tujuan dari perubahan iklim serta peningkatan mobilisasi sumber daya untuk lingkungan dan perubahan iklim.

"Komitmen penurunan emisi GRK tetap harus dilaksanakan oleh semua negara, walaupun dengan menghadapi tantangan pandemi COVID-19 yang tidak mudah, untuk menghindari terjadinya bencana yang lebih besar akibat perubahan iklim," demikian dijelaskan dalam keterangan tertulis KLHK, Jumat (31/12/2021).

"Indonesia akan mengajak negara-negara G20 untuk menunjukkan contoh-contoh yang dapat mendorong gerakan konkret penurunan emisi GRK, yang memberi manfaat ganda yaitu meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan serta membangun masa depan yang lebih berketahanan iklim," jelasnya.

Sementara itu, isu kelautan yang digagas Indonesia pada perhelatan COP 25 UNFCCC di Madrid, Spanyol yang telah kemudian dirumuskan sebuah mandat terbaru pada COP 26 UNFCCC di Glasgow, Inggris akan dikembangkan oleh Indonesia pada pelaksanaan G20 untuk meningkatkan kerja sama internasional dalam karbon biru dan penguatan ketahanan ekosistem pesisir dan laut.

Selain itu, inovasi-inovasi pendanaan bagi kegiatan-kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sudah dilakukan di beberapa negara G20, seperti pengembangan nilai ekonomi karbon termasuk pajak karbon dan perdagangan karbon. G20 akan menyiapkan rekomendasi kerangka pendanaan inovatif untuk mendukung pelaksanaan Nationally Determined Contribution (NDC) menuju transisi yang rendah karbon dan berketahanan iklim.

Pada tanggal 2 September 2022, Menteri LHK akan memimpin Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan dan Perubahan Iklim G20 untuk menyepakati hasil dari Kelompok Kerja dari EDM-CSWG.

(ncm/ega)