Madago Raya Akan Terapkan Soft Approach agar Teroris MIT Serahkan Diri

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 16:32 WIB
Kapolda Sulteng Irjen Rudy Sufahriadi (Foto: Dok Humas Satgas Madago Raya)
Kapolda Sulteng Irjen Rudy Sufahriadi (Dok. Humas Satgas Madago Raya)
Jakarta -

Masa operasi Satgas Madago Raya yang memburu DPO teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), kembali diperpanjang untuk 2022. Satgas Madago Raya terus mencari sisa empat DPO yang tak kunjung menyerahkan diri.

"Sudah diperpanjang untuk pelaksanaan tahun 2022. TNI-Polri sementara terus bekerja untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat dan tokoh agama guna menurunkan para DPO agar menyerahkan diri. Tetapi sampai sekarang belum ada, sehingga harus terus dicari," ujar Kapolda Sulteng Irjen Rudy Sufahriadi kepada wartawan, Jumat (31/12/2021).

Rudy sekaligus membeberkan capaian Satgas Madago Raya selama 2021. Rudy menyebut satgas menangkap lima dari sembilan DPO teroris MIT Poso.

"Hal yang menonjol selama tahun 2021 terkait penanganan terorisme, di antaranya adalah keberhasilan menangkap lima dari sembilan DPO teroris Poso, antara lain Ali kalora dan Jaka," tuturnya.

Pakai Soft Approach

Lebih lanjut, Rudy mengatakan Satgas Madago Raya akan mengedepankan pendekatan lunak (soft approach) pada 2022. Untuk cara bertindaknya, Rudy menyatakan masih dalam proses perumusan.

"Operasi Madago Raya tahun 2022 akan mengedepankan tindakan soft approach. Bagaimana cara bertindak ini semua sementara dirumuskan," kata Rudy.

"Masih ada empat sisa DPO teroris Poso. Dua dari Poso, yaitu Suardin alias Farhan alias Abu Farhan dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang alias Basir; serta dua dari Bima, NTB, yaitu Jafar alias Pak Guru alias Askar dan Imam alias Galuh alias Nae," imbuhnya.

Diketahui, Satgas Madago Raya, yang merupakan pasukan gabungan TNI-Polri terdapat banyak pihak yang tergabung di dalamnya, termasuk Densus 88 Antiteror dan Koopsgabsus TNI yang terdiri atas satuan elite Kopassus, Marinir, dan Paskhas.

Satgas Madago Raya terbagi ke dalam beberapa tim, yakni tim sekat, tim kejar, tim pengamanan daerah rawan, tim kamtibmas, tim binmas, dan tim edukasi kepada masyarakat.

Pimpinan teroris MIT, Ali Kalora, tewas dalam baku tembak dengan Satgas Madago Raya di Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parimo, Sulteng. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (18/9) petang.

Dalam baku tembak tersebut, Satgas Madago Raya juga menembak satu anggota MIT bernama Jaka Ramadhan.

(drg/jbr)