Ini Kaleidoskop Bencana 2021 dan Persiapan BNPB di 2022

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 15:32 WIB
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (Furda Cynthia/Detikcom)
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (Firda Cynthia/Detikcom)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekam kembali rangkaian bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang 2021. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan rangkaian insiden memilukan itu memberikan banyak pelajaran terhadap upaya pemerintah dalam menangani bencana.

"Rangkaian bencana alam dan pandemi COVID-19 pada tahun 2021 memberikan kita banyak pembelajaran dalam meningkatkan kesiapsiagaan, pencegahan, dan mitigasi. Upaya optimal pada fase pra-bencana merupakan kunci utama dalam mengurangi risiko bencana," ujar Suharyanto dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (31/12/2021).

Dia menyebut ada sejumlah prioritas pemerintah dalam memitigasi bencana alam. Menurut dia, mitigasi itu meliputi penataan tata ruang, penguatan bangunan tahan gempa, serta penguatan literasi soal bahaya dan sistem peringatan dini bencana.

"Beberapa prioritas dalam mitigasi bencana alam antara lain, penataan tata ruang dan pengembangan kawasan yang berbasis mitigasi bencana; penguatan bangunan agar tahan gempa, restorasi lingkungan dan ekosistem; penguatan literasi dan pemahaman akan bahaya, potensi, serta risiko dan sistem peringatan dini bencana," paparnya.

Selain itu, Suharyanto menyoroti bencana non-alam yang saat ini melanda, yaitu COVID-19. Dia mengatakan pemerintah akan terus menghadapi pandemi COVID-19 yang saat ini masih mengancam.

"Bencana non-alam adalah ancaman kedua yang harus kita hadapi karena pandemi COVID-19 belum ada tanda tanda mereda. Bahkan penularan COVID secara global berada di titik tertinggi ketika kasus di Indonesia sedang terkendali," sambungnya.

Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan mengatakan bahwa masyarakat hidup berdampingan dengan bencana. Lantas, menurutnya, pemerintah harus mengupayakan sejumlah hal, dari pencegahan hingga melakukan peringatan dini bencana dengan optimal,

"Bagaimana kita menjauhkan masyarakat dari bencana. Ini intinya adalah tata ruang yang harus diimplementasikan di semua tempat di Indonesia. Kemudian, kita hidup berdampingan dengan bencana. Kita harus melakukan berbagai hal mulai dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, maupun menjalankan peringatan dini dengan baik," ujar Lilik dalam kesempatan yang sama.

Lilik juga memaparkan beberapa bencana alam dan non alam yang disorot sepanjang 2021. Berikut ini kaleidoskop bencana 2021 berdasarkan catatan BNPB:

Pada Januari, terjadi bencana di Tanah Air yang diawali kejadian tanah longsor di Sumedang, Jawa Barat. Pada bulan selanjutnya, terjadi tanah longsor di Nganjuk dan Pamekasan. Kemudian, pada Maret terjadi bencana banjir bandang di Sulawesi Tengah. Pada April, terjadi gempa bumi di Jawa Timur dan bencana siklon seroja di Nusa Tenggara.

Kemudian, pada Mei, terjadi gempa bumi di Blitar, Jawa Timur. Pada Juni, ada gempa bumi di Maluku Tengah. Pada Juli, terjadi kenaikan kasus COVID-19 tertinggi di Tanah Air. Pada Agustus, banjir di Katingan, Kalimantan Tengah. Pada September, terjadi longsor di Samarinda dan di Pariaman. Sementara pada Oktober ada gempa di Bali, longsor di Deli Serdang, dan banjir di Sintang. Adapun pada November, terjadi cuaca ekstrem di Tanah Toraja, banjir hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Pada Desember, muncul bencana yang mencolok, yaitu adanya awan panas guguran di Gunung Semeru, banjir di Lombok, NTB, dan gempa di Flores.

(fca/tor)