Demo Buruh Anarkis
SBY: Ada Kelompok Yang Belum Ikhlas Menerima Hasil Pemilu
Kamis, 04 Mei 2006 03:40 WIB
Amman - Presiden SBY mensinyalir ada kelompok-kelompok yang hingga kini belum ikhlas menerima hasil pemilu 2004. Mereka inilah yang diduga ingin menciptakan situasi yang tidak kondusif, termasuk dengan menunggangi aksi buruh."Kalau ada di antara komponen bangsa, apakah perseorangan, kelompok atau ikatan identitas yang lain, yang barangkali belum ikhlas, belum legowo, belum menerima hasil pemilu 2004 lalu, meskipun itu menjadi hak untuk melakukan langkah politik apa pun dalam koridor demokrasi, tapi tolong jangan sampai semuanya itu berujung pada situasi dalam negeri Indonesia yang tidak kondusif untuk pembangunan berikutnya" papar SBY.Pernyataan ini dilontarkan SBY menanggapi aksi unjuk rasa buruh yang berlangsung anarkis. Dalam jumpa pers yang berlangsung di Hotel Four Seasons, Amman, Yordania, Rabu (3/5/2006) pukul 18.40 waktu Amman atau pukul 22.40 WIB sebagaimana dilaporkan wartawan detikcom Budiono Darsono, SBY juga menyampaikan rasa kecewa dan prihatinnya. Dengan situasi yang tidak kondusif, yang menjadi korban justru rakyat. Dalam demokrasi ada regulasi atas tatanan dalam kompetisi yang harus dihormati. Ada aturan-aturan yang harus disepakati bersama dalam melakukan penyegaran sebuah kepemimpinan dan pemerintahan."Jangan korbankan kepentingan rakyat yang lebih luas, jangan korban momentum dan peluang emas yang sesungguhnya dapat kita gunakan dengan baik," tegasnya.SBY yang mendapat laporan langsung dari Wapres Jusuf Kalla, Kapolri Jenderal Pol Sutanto dan beberapa sumber lainnya tentang aksi buruh hari ini mengatakan, hukum tidak serta merta harus dilekatkan pada gerakan-gerakan sepeti ini.Sebagai kepala negara dia mengajak pihak-pihak dan kelompok-kelompok yang masih menggunakan cara-cara kekerasan dan anarkis untuk kembali kepada hati nurani dan berpikiran bersih."Saya mengajak marilah kita kembalikan pada hati nurani kita. Pada pikiran bersih kita, pada tuntutan moral kita. Utamakan kepentingan bangsa dan negara," pinta SBY.
(bal/)











































