Dua Situs Kuno Ditemukan di Bawah Laut Tidore Kepulauan Maluku Utara

Dea Duta Aulia - detikNews
Kamis, 30 Des 2021 14:54 WIB
KKP
Foto: dok. KKP
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP), dan Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) menguak dua situs bawah air yakni Soasio dan Tongowai di Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

"Kajian Riset Budaya Maritim dan Bawah Air Kota Tidore Kepulauan telah terlaksana sejak 2019, namun di tahun 2020 sempat terhenti karena adanya pandemi COVID-19, kemudian kita lanjutkan di 2021," kata Plt. Kepala BRSDM, Kusdiantoro dalam keterangan tertulis, Kamis (30/12/2021).

Ia menerangkan, riset arkeologi maritim bertujuan untuk pengelolaan wisata bahari berkelanjutan dan penguatan narasi sejarah dan budaya maritim di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara.

"Kajian ini juga terlaksana sebagai tindak lanjut permohonan dari Wali Kota Tidore, Ali Ibrahim, pada tahun 2018, tentang dukungan riset bagi pengungkapan Sejarah Maritim terkait Ekspedisi Magellan-Elcano untuk mendukung peringatan Sail Tidore 2022, yang juga bertepatan dengan Peringatan 500 Years Circumnavigation of the World oleh Ferdinan Magellan dan Juan Sebastian Elcano," tambahnya.

Kusdiantoro mengatakan, melalui kajian ini, diharapkan dapat menjadikan Tidore sebagai lokasi wisata bahari yang bisa mendapatkan perhatian dari berbagai wisatawan domestik dan luar negeri.

Kepala Pusriskel, I Nyoman Radiarta mengatakan, hasil penelitian ini bisa menjadi dasar untuk menyusun program prioritas di KPP.

"Situs BMKT menjadi salah satu prioritas riset BRSDM. Tentunya hasil penelitian ini dapat menjadi scientific-based untuk program prioritas KKP, khususnya dalam mengembangkan kampung-kampung perikanan berbasis kearifan lokal, dalam hal ini kampung wisata bahari," kata Nyoman.

Sementara itu, Kepala LRSDKP, Nia Naelul Hasanah menerangkan ada sejumlah langkah yang dilakukan dalam melakukan penelitian seperti wawancara, penyelaman, pengurukan, dokumentasi, dan lainnya. Dari metode tersebut ditemukan dua situs arkeologi yakni Soasio dan Tongowai.

"Situs Soasio terletak di Tanjung Soasio, dengan posisi tepat di seberang Benteng Tahula yang merupakan benteng pertahanan Spanyol yang digunakan hingga tahun 1662. Situs ini secara administratif bagian dari Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore. Situs bawah air Soasio berada di kedalaman 15¬-20 m. Jarak Situs Soasio sangat dekat dari jalan utama yaitu sekitar 100 m dan para penyelam dapat mengakses situs dengan mudah dengan beach entry dari area Langgar Kota Maalu di bawah Benteng Tahula, melalui Giant Step Diving dari area pemancingan warga, atau menggunakan perahu dari pelabuhan nelayan," jelas Nia.

Ia menjelaskan, beberapa artefak ditemukan terkubur di dasar laut dan beberapa terletak di permukaan dasar laut yang ditutupi oleh terumbu karang.

Adapun temuan sampel artefak keramik dari Soasio berupa fragmen piring dan mangkok keramik biru putih dari Tiongkok dari masa Dinasti Ming, yaitu dari masa pemerintahan Kaisar Wanli (1572-1620), 1 piring utuh bermotif flora fauna diproduksi di Swatow, Tiongkok Selatan masa Kaisar Wanli, dan 1 jenis keramik dari masa Kaisar Tianqi (1620-1627) bermotif seorang pemusik dengan alat musik tradisional yang biasanya diekspor oleh Tiongkok ke Jepang. Selain itu, terdapat keramik putih polos berbentuk mangkok dan piring.

"Untuk Situs Tongowai, terletak di Kelurahan Tongowai, Kecamatan Tidore Selatan. Situs Tongowai terletak di kedalaman 30-42 m dengan visibility jernih 10-25 m. Temuan artefak berupa sebuah meriam dan sejumlah fragmen guci gerabah. Meriam besi yang tampak utuh ditemukan di kedalaman 37-42 m," ungkap Nia.

Dari beragam temuan tersebut membuktikan bahwa secara fisik, Kota Tidore berperan penting sebagai Kosmopolis Rempah Nusantara dan titik sentral dalam jaringan pelayaran dan perdagangan internasional di Jalur Rempah dan Jalur Sutra Laut yang menghubungkan dunia timur dan barat yang berkontribusi besar bagi sejarah maritim Indonesia dan dunia.

(prf/ega)