Dinilai Bisa Tumbuhkan Ekonomi, DPR Dorong Permudah Izin Ekspor Burung

Atta Kharisma - detikNews
Senin, 20 Des 2021 13:08 WIB
Ketum PKB Muhaimin Iskandar dan Wasekjen PKB Daniel Johan.
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Hobi memelihara burung disebut tak hanya sekadar menjadi tren yang digandrungi sejumlah orang, tapi telah menjelma menjadi industri yang berpotensi menumbuhkan perekonomian rakyat. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan menyebutkan kondisi Indonesia yang kaya akan populasi burung. Bahkan, 70% spesies burung di dunia ada di Indonesia.

"Tetapi yang dikenal pusat burung internasional justru Thailand. Ikan hias kita begitu banyak tetapi yang menjadi pusat ikan dunia malah Singapura. Padahal ikan yang dijual di sana banyak dari kita. Kenapa kita nggak rebut," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (20/12/2021).

Hal itu ia sampaikan saat mendampingi Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar meninjau penangkaran burung Murai Batu milik Yayasan BnR di Kampung Cukanggih, Ciakar, Tangerang, Jumat (17/12).

Lebih lanjut Daniel menyoroti akibat regulasi yang kurang jelas, banyak burung-burung ilegal dari Indonesia dijual di luar negeri. Daniel pun siap mengawal agar pelaku industri burung nasional mendapat perlindungan dari negara.

"Penangkaran-penangkaran burung kita ini sampai desa-desa, sampai tingkat grass root. Tapi untuk ekspor susah padahal pasar internasional ada. Yang impor malah gampang," tandasnya.

Daniel menilai jika regulasi diperbaiki dengan mengedepankan kemudahan ekspor, maka negara juga akan memperoleh manfaat dari sisi devisa. Selain itu, Indonesia juga akan semakin dikenal sebagai produsen burung di kancah internasional.

"Jadi semakin memperkenalkan Indonesia di mata dunia," katanya.

Pendiri Yayasan BnR, Bang Boy mengatakan banyak pecinta burung dari luar negeri yang kerap mencari burung dari Indonesia. Namun regulasi yang belum memadai menyulitkan kelompok industri burung untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Padahal kami bisa ekspor, bisa menjadikan pemasukan untuk pemerintah juga. Permintaan pasar luar negeri akan burung kita sangat luar biasa. Pernah ada yang minta telur Murai, dihargai Rp 10 juta per butir minta 100 butir tapi kita terkendala di birokrasinya. Permintaan Jalak Suren dari India dalam sebulan itu bisa 3.000 ekor tapi kita nggak bisa keluar. Ini harusnya bisa diterobos," ungkapnya.

Sebelumnya, Muhaimin Iskandar menegaskan DPR RI mendorong agar regulasi terkait ekspor burung disempurnakan sehingga komunitas kicau mania bisa lebih terfasilitasi sekaligus menambah devisa negara.

Dirinya juga mengapresiasi BnR, yayasan yang mewadahi para kicau mania. Bukan hanya pecinta burungnya saja, tapi juga kelompok penyangga lainnya mulai dari para penangkar, pengrajin kandang, penyedia pakan dan obat-obatan burung, hingga juri perlombaan burung.

"Patut diapresiasi oleh pemerintah, dengan hambatan-hambatannya termasuk salah satunya kita harus stop impor Murai dari luar negeri supaya melindungi berkembangnya penangkaran di tanah air," tuturnya.

Lewat kehadiran sejumlah penangkar yang aslinya berawal dari hobi, populasi burung di Indonesia saat ini semakin membaik. Bahkan, burung-burung yang tadinya nyaris punah, seperti Jalak Bali, populasinya kini menjadi lebih banyak dan menjadi nilai tambah perekonomian.

"Prinsipnya adalah melestarikan habitat-habitat langka menjadi lebih berkembang biak," ujarnya.

(akn/ega)