Kronologi Pasutri Kredit Mobil: Dipolisikan Leasing, Ditahan, Mengadu ke MK

Andi Saputra - detikNews
Minggu, 19 Des 2021 13:11 WIB
Ilustrasi kredit mobil
Ilustrasi kredit mobil (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Pasangan suami istri (Pasutri) dari Jakarta Utara (Jakut), Johanes Halim dan Syilfani Lovatta Halim, membeli Toyota Voxy dengan cara dicicil. Belakangan, kasus utang-piutang ini malah dipolisikan leasing dan Johanes ditahan. Keduanya mengadu ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan meminta keadilan.

Berikut kronologi kasus tersebut yang dirangkum detikcom dari berkas permohonan judicial review di MK, Minggu (19/12/2021):

2019
Johanes Halim dan Syilfani Lovatta Halim membei Voxy dengan tenor 5 tahun. Per bulan mencicil Rp 7.116.000.

2020
Pemerintah menetapkan pandemi COVID sebagai bencana nonalam nasional. Perekonomian keluarga Johanes-Syilfani terdampak. Cicilan mobil Voxy menjadi terhambat.

2020
OJK mengeluarkan kebijakan stimulus perekonomian sosial dampak pandemi COVID-19.

18 September 2020
Leasing menyetujui pembantaran cicilan, yaitu Johanes mencicil lagi terhitung 9 Mei 2021.

2021
OJK memperpanjang relaksasi restrukturisasi kredit hingga Maret 2023.

26 April 2021
Leasing mengingatkan Johanes agar membayar cicilan maksimal 9 Mei 2021.

25 Mei 2021
Leasing mengirim WhatsApp bila Johanes telat membayar cicilan.

29 Mei 2021
Johanes menerima telepon dari debt collector untuk melunasi cicilan. Johanes meminta pembantaran cicilan karena masih terdampak pandemi. Apalagi ibunya sakit jantung sehingga ekonomi keluarga sangat terdampak.

Johanes pergi ke Kalimantan untuk bekerja guna menghidupi keluarganya.

15 Juni 2021
Leasing melaporkan Johanes ke Polda Metro Jaya dengan Pasal 36 UU Fidusia.

17 September 2021
Polda Metro Jaya menetapkan Johanes sebagai tersangka.

30 Oktober 2021
Johannes ditangkap polisi di Kalimantan.

1 November 2021
Johannes mulai ditahan di Polda Metro Jaya. Penahanan hingga 30 Desember 2021.

10 Desember 2021
Johanes-Syilfani mencari keadilan ke MK. Keduanya meminta penafsiran:

Pasal 30 UU Fidusia yang berbunyi:

Pemberi Fidusia wajib menyerahkan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia

Johannes dan Syilfani meminta pasal 30 di atas diubah menjadi:

Pemberi Fidusia wajib menyerahkan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia, kecuali terhadap objek jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji (wanprestasi) dan debitur tidak secara sukarela menyerahkan objek fidusia.

Johannes dan Syilfani juga meminta penjelasan Pasal 30 di atas diubah, dari:

Dalam hal Pemberi Fidusia tidak menyerahkan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia pada waktu eksekusi dilaksanakan, Penerima Fidusia berhak mengambil Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dan apabila perlu dapat meminta bantuan pihak yang berwenang.

Menjadi:

Dalam hal Pemberi Fidusia tidak menyerahkan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia pada waktu eksekusi dilaksanakan, Penerima Fidusia berhak mengambil Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dan apabila perlu dapat meminta bantuan pihak yang berwenang, kecuali terhadap objek jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji (wanprestasi) dan debitur tidak secara sukarela menyerahkan objek fidusia.

Demikian juga dengan Pasal 372 KUHP yang berbunyi:

Barangsiapa dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya termasuk kepunyaan orang lain dan barang itu ada dalam tangannya bukan karena kejahatan, dihukum karena penggelapan, dengan hukuman penjara se-lama2nya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900,

Diubah menjadi:

Barangsiapa dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya termasuk kepunyaan orang lain dan barang itu ada dalam tangannya bukan karena kejahatan, dihukum karena penggelapan, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900, kecuali terhadap objek jaminan fidusia yang tidak ada kesepakatan tentang cidera janji (wanprestasi) dan debitur tidak secara sukarela menyerahkan objek fidusia.

Lihat juga Video: Ini Perusahaan Leasing yang Kasih Keringanan Pembayaran

[Gambas:Video 20detik]



(asp/isa)