Relasi Islam-Kristen Sering Memunculkan Konflik
Selasa, 02 Mei 2006 06:26 WIB
Los Angeles - Harmoni hubungan antara umat Islam dan umat Kristen bisa menjadi karang penghalang untuk merekatkan keutuhan bangsa. Disharmoni antara kedua umat ini dapat menjadi bom yang sewaktu-waktu mengganggu perjalanan kebangsaan. "Tidak dapat dipungkiri, relasi antar-komunitas beragama ini acapkali menimbulkan ketegangan bahkan konflik," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam dialog dengan masyarakat Indonesia yang memadati auditorium Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles seperti rilis yang diterima detikcom Selasa (2/5/2006)."Konflik Ambon dan Poso yang melibatkan umat Islam dan umat Kristen, bukan dilatarbelakangi motif agama, melainkan lebih disebabkan faktor-faktor sosial, ekonomi, dan politik. Agama hanya dijadikan sebagai alat justifikasi," ujarnya dihadapan audiens yang terdiri dari jamaah dan pemuka berbagai agama. Identifikasi sistem sosial, ekonomi, dan politik dengan dukungan agama tertentu akan mudah memperkeruh suasana kehidupan beragama dan tak jarang berakhir dengan kekerasan.Keadaan tersebut, lanjutnya, mengindikasikan terdapat masalah dalam hubungan umat Islam dan umat Kristen, yang berpangkal pada perebutan hegemoni sosial, ekonomi, dan politik. Perebutan hegemoni inilah yang berhimpitan dengan penyiaran agama, sehingga tak pelak menimbulkan ketegangan yang kemudian memercikkan api konflik. Jika tidak segera dipadamkan, konflik akan menjalar ke semua sendi sehingga mengganggu perjalanan kebangsaan. Oleh karena itu, lanjut Din, dituntut sikap kenegarawanan para tokoh agama untuk mencari jalan keluar. Idealnya, dibutuhkan semacam etika nasional yang disepakati para tokoh untuk menjadi pegangan dalam penyiaran agama. Tradisi dialog antar-umat agama menjadi penting guna mengembangkan nilai-nilai etika nasional yang sangat menghargai harmoni. Tanpa etika nasional tersebut, tegas Din, peraturan perundang-undangan yang sudah berlaku tidak akan mampu efektif mengatasi persoalan. "Apalagi jika penegakan perangkat hukum ini ternyata lemah," jelas dia.Hubungan antarumat beragama dengan mengabaikan etika nasional boleh jadi merupakan salah satu persoalan krusial yang telah, sedang, dan akan terus mendorong ke lembah perseteruan abadi antarumat beragama. Namun, sambung Din, kerukunan antarumat beragama tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemuka agama melainkan juga pemerintah. Tugas dan tanggung jawab pemerintah terutama menghilangkan faktor-faktor konflik seperti kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.Peredaan ketegangan dan konflik antarumat beragama tentu saja tidak dapat mereda hanya dengan dialog, yang pesertanya berasal dari elite-elite agama, sementara pelaku tindak kekerasan di akar rumput hampir tidak pernah dilibatkan. Dialog lintas agama memang penting, tetapi lebih penting lagi dialog tersebut bisa mengubah sikap beragama seseorang yang cenderung destruktif menjadi sikap saling mengasihi dan mengayomi.
(mar/)











































