Kejaksaan Cetak 459 Jaksa Baru, Jaksa Agung Beri Pesan Ini

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 16 Des 2021 11:12 WIB
Jaksa Agung ST Burhanuddin lantik 459 jaksa baru
Jaksa Agung ST Burhanuddin lantik 459 jaksa baru. (Dok. Kejagung)
Jakarta -

Sebanyak 459 jaksa baru dinyatakan lulus mengikuti pendidikan dan pelatihan pembentukan jaksa angkatan LXXVII (78) tahun 2021 dan telah dilantik. Jaksa Agung mengingatkan pentingnya menjaga marwah kejaksaan dan menjaga integritas jaksa baru.

Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXVIII (78) Tahun 2021 diselenggarakan selama 4 (empat) bulan, yang dibuka oleh Jaksa Agung RI pada Kamis, 12 Agustus 2021, dan ditutup pada Rabu, 15 Desember 2021.

Kabadiklat Kejagung, Tony Spontana, mengatakan sebanyak 459 orang calon jaksa dari tiap satuan kerja Kejaksaan Tinggi, Kejaksaan Negeri, ataupun cabang Kejaksaan Negeri di seluruh Indonesia mengikuti diklat tersebut. Berdasarkan rekapitulasi hasil penilaian yang meliputi nilai akademik (pengetahuan dan ketrampilan) dan nilai sikap perilaku, maka Rapat Evaluasi Kelulusan telah memutuskan 459 orang Peserta PPPJ Angkatan 78 Tahun 2021 dinyatakan lulus sehingga memenuhi syarat untuk diangkat sebagai jaksa.

Pelantikan tersebut dilaksanakan pada (15/12) kemarin dihadiri Jaksa Agung ST Burhanuddin, Ketua Komjak Barita Simanjuntak, Jambin Bambang Rukmono, Jampidum Fadil Zumhana, Jampidsus Ali Mukartono, dan sejumlah pimpinan Kejagung lainnya. Dalam sambutannya Burhanuddin terus mengingatkan tentang pentingnya menjaga integritas, profesionalitas, dan intelektual untuk menjaga marwah kejaksaan.

Burhanuddin mengatakan tak segan-segan menghukum anak buahnya yang melakukan pelanggaran hukum untuk menjaga marwah institusi. Namun sebaliknya, Jaksa Agung akan memberi perlindungan jika ada pihak yang berani mempertahankan integritas dan menolak perintah atasannya yang melanggar dan mencederai marwah kejaksaan.

"Sering kali saya katakan, saya tidak membutuhkan jaksa yang pintar tetapi tidak bermoral, dan saya juga tidak butuh Jaksa yang cerdas tetapi tidak berintegritas. Yang saya butuhkan adalah para jaksa yang pintar dan berintegritas," ujar Burhanuddin dalam keterangan tertulis melalui Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak, Kamis (16/12).

Lebih lanjut, Burhanuddin mengatakan seiring perkembangan zaman dibutuhkan standar profesionalitas sumber daya manusia. Ia mengatakan secara formil syarat menjadi jaksa memang mensyaratkan gelar sarjana S-1, tetapi kenyataannya perkembangan kompleksitas dan problematika penegakan hukum menuntut aparat penegak hukum khususnya jaksa tidak cukup hanya sampai jenjang S-1 saja, idealnya menurut Burhanuddin saat ini seorang jaksa setidaknya menempuh jenjang pendidikan S-2.

Burhanuddin meminta jaksa terus meningkatkan kapasitas dirinya dengan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya dengan memanfaatkan peluang beasiswa. Selain itu jaksa juga diimbau meningkatkan kemampuan teknis dengan mengikuti berbagai Diklat penanganan perkara.

"Satu hal yang perlu saudara sadari dan syukuri, bahwa setelah menyandang jabatan baru sebagai Jaksa itu berarti saudara sekalian adalah calon pimpinan masa depan Kejaksaan. Saudara semua memiliki hak dan peluang yang sama untuk dapat memegang tongkat komando unsur pimpinan di Kejaksaan, namun tidak semua Jaksa dapat meraih jabatan-jabatan strategis tersebut, karena untuk bisa meraih jabatan tersebut saudara dituntut tidak hanya cakap dalam bidang teknis saja, melainkan juga harus memiliki jiwa leadership yang mumpuni, serta manajerial yang handal," ujar Burhanuddin.

Burhanuddin juga mengingatkan pada jaksa yang baru dilantik nantinya akan memimpin di kejaksaan, sehingga dia meminta jajarannya mempersiapkan diri untuk meneruskan perjuangan pemimpin sebelumnya.

"Ingat pesan saya, regenerasi di tubuh institusi pasti terjadi, maka persiapkan diri sebaik mungkin untuk memegang tongkat komando suatu hari nanti," ujar Jaksa Agung RI.

Selain itu, Burhanuddin mengingatkan sebagai jaksa baru yang berada di era milenial tentunya akan ada beragam tantangan sesuai dengan zaman digital. Dengan demikian, Burhanuddin meminta jaksa yang baru dilantik itu mempelajari potensi konflik hukum di masa digital.

"Oleh karena itu, sebagai jaksa baru, jaksa yang lahir di era milenial dan digital, saya sangat berharap kalian menyadari, memahami, dan menguasai tata cara dan tata hidup di dunia baru tersebut. Potensi konflik hukum tatanan dunia baru ada di depan mata kalian, dan saya yakin hukum kita belum mampu menjangkau problematik ini. Saya sangat berharap kalian para jaksa baru bisa dan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan aparat penegak hukum memasuki era metaverse untuk mengawal dan memastikan adanya tertib hukum masyarakat dunia maya," ujarnya.

Simak Video 'Jokowi: Kepercayaan Publik, Kunci agar Pemerintahan Efektif':

[Gambas:Video 20detik]

(yld/dhn)