Gelar Acara Bedah Musik, BPIP Bicara Identitas Bangsa

Dea Duta Aulia - detikNews
Rabu, 15 Des 2021 10:28 WIB
BPIP
Foto: dok. BPIP
Jakarta -

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan acara Bedah Musik Kebangsaan bertajuk Sosialisasi Nilai-Nilai Pancasila Lewat Musik di Universitas Sumatera Utara, Medan..

Wakil Kepala BPIP Prof Hariyono mengatakan, musik adalah identitas bangsa dan sangat penting. Bahkan pada masa lalu, para pejuang kemerdekaan seperti Ki Hajar Dewantara telah memikirkan lagu kebangsaan untuk bangsa Indonesia.

"Inilah yang dipikirkan Ki Hajar Dewantara pada 1918 ditanggapi oleh WR Supratman pada 1924 dan mulai mengaransemen lagu Indonesia Raya," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/12/2021).

Dalam acara yang digelar Selasa (14/12) itu ia menambahkan, mengaransemen lagu pada saat itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan, kala itu, WR Supratman pun harus ditangkap Belanda karena telah mengaransemen lagu kebangsaan.

"WR Supratman ditangkap karena lagu yang diaransemen. Maka seharusnya lagu-lagu kebangsaan bisa menggugah nasionalisme kita," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) Rithaony Hutajulu juga mengatakan hal serupa. Rithaony mengatakan, musik sangat penting bagi semua bangsa. Bahkan, musik tidak hanya sebatas digunakan untuk hiburan saja, namun juga untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

"Di sejumlah negara, musik ini malah dianggap sebagai pengetahuan yang wajib, bukan sekadar hiburan," tambah Rithaony.

Tak hanya itu, ia menambahkan, sejak 1920-an, rasa nasionalisme Indonesia sudah terbentuk karena persamaan nasib yakni pernah dijajah. Dari situ, memunculkan karya musik yang menggetarkan persatuan Indonesia.

"Dalam konteks Indonesia, bahwa di tahun 1920-an sudah terbentuk nasionalisme dari berbagai rasa persamaan senasib dan sebangsa. Jadi, muncullah karya-karya lagu yang menggetarkan dan menggugah persatuan Indonesia," tambahnya.

Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia yang hadir di acara tersebut juga mengatakan, salah satu musik yang mampu meningkatkan rasa nasionalisme yakni Dari Sabang Sampai Merauke. Lagu tersebut menggambarkan kondisi Indonesia ketika Jepang menutup semua sekolah.

"Lagu ini diciptakan sebagai bentuk keprihatinan dan protes penciptanya karena Jepang menutup semua sekolah," jelas Doli.

Tak hanya itu, penggalan lirik 'Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau' itu memiliki makna yang dalam. Menceritakan kebesaran Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau.

Berkaitan dengan nasionalisme, Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Prakoso menambahkan, dulu orang mengenal Pancasila dengan doktrin seperti hafalan dan pelajaran konstitusi. Namun, untuk saat ini dibutuhkan cara-cara yang segar agar kaum milenial bisa tertarik mendalami Pancasila.

Apalagi, ada ada tawaran dari Presiden Jokowi untuk mensosialisasikan Pancasila untuk pemuda dengan sejumlah hal menarik. Misalnya, dengan kuliner, kesenian, dan film atau animasi.

"Misalnya kita mau menanamkan nilai-nilai Pancasila, kita kenalkan ke mereka dengan musik seperti lagu Bangun Pemudi Pemuda. Ini kita sampaikan dengan musik tidak lagi seperti penataran," jelasnya.

Sementara itu, Rektor USU DR Muryanto Amin mengapresiasi langkah BPIP karena mengangkat musik menjadi sebuah media untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

"Bedah Musik Kebangsaan yang digagas oleh BPIP merupakan suatu terobosan yang sangat baik dalam melihat nilai-nilai Pancasila. Karena, tak ada orang di muka bumi ini yang tak suka musik," tutup Muryanto.

(prf/ega)