Buruh dan Polisi Bersitegang di HI
Minggu, 30 Apr 2006 22:59 WIB
Jakarta - Niat buruh menjalankan aksi damai tampaknya sulit terwujud. Kepolisian melarang adanya panggung komando aksi demonstrasi. Negosiasi antara buruh dan polisi berjalan tegang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu malam (30/4/2006)."Padahal itu untuk koordinasi massa. Kita pingin ada satu titik dan terkendali. Kalau tidak malah kocar-kacir. Bakal rusuh dan ngawur. Kan bahaya nanti," ujar Ketua Umum Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (GASPERMINDO) Jumhur Hidayat, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu.Padahal, maksud dari adanya panggung tersebut adalah sebagai pusat komando bagi seluruh organisasi buruh yang akan turut hadir dalam aksi yang besok. Panggung tersebut, menurutnya, tidak bisa digantikan hanya dengan digunakannya mobil bak terbuka, seperti yang biasa digunakan dalam aksi unjuk rasa skala kecil."Panggung mau nggak mau sekarang juga harus terpasang. Tapi kok malah dilarang oleh polisi," tandasnya.Jumhur juga menyesalkan larangan aparat kepolisian yang tanpa alasan tersebut. Padahal, dalam aksi penolakan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang berlangsung minggu lalu, juga digunakan panggung sebagai pusat komando."Padahal aksi penolakan RUU APP tersebut jumlahnya jauh lebih sedikit. Saya nggak habis pikir. Malam ini kita akan tetap perjuangkan agar panggung bisa terpasang," imbuhnya.Dalam aksi unjuk rasa yang akan di gelar Senin 1 Mei, puluhan ribu massa akan membanjiri Jakarta. Titik-titik aksi diperkirakan berada di Bundaran HI, Istana Negara, dan Gedung DPR RI.Selain untuk memperingati Hari Buruh Internasional, aksi tersebut juga berkaitan dengan penolakan terhadap Undang-undang Ketenagakerjaan (UUK) Nomor 13 Tahun 2003.
(wiq/)











































