Dili Belum Kondusif, WNI Terus Mengungsi ke Atambua
Sabtu, 29 Apr 2006 20:14 WIB
Kupang -
Arus pengungsian WNI dari Timor Leste ke Indonesia melalui wilayah perbatasan Motaain, Kabupaten Belu, NTT pasca kerusuhan di Kota Dili terus mengalir. Para WNI mengaku tidak nyaman di negara itu, setelah pemerintah setempat memberlakukan jam malam dan melarang warga keluar rumah. KBRI di Dili telah mengeluarkan peringatan supaya WNI tidak bepergian ke negara bekas provinsi ke-27 Indonesia itu apabila tidak ada keperluan mendesak. Dalam dua hari terakhir, jumlah warga yang berhasil menyeberang ke Atambua, Kabupaten Belu sebanyak 81 orang. Sembilan di antaranya adalah warga asing asal Filipina, Australia dan Timor Leste.Informasi yang dihimpun di wilayah perbatasan menyebutkan ratusan WNI yang hendak mengungsi ke Indonesia dihalau warga Timor Leste dan bekas anggota Tentara Nasional yang dipecat di sekitar Distrik Liquisa. "Mereka menebang pohon di sepanjang jalan dan memblokade ruas jalan yang menghubungkan kedua negara. Arus kendaraan yang ingin ke Dili maupun sebaliknya ditahan dan tidak diizinkan melanjutkan perjalanan," kata sumber di perbatasan Motaain. Situasi keamanan di Kota Dili, hingga Sabtu malam juga belum kondusif. Ratusan WNI yang sejak Jumat menyeberang ke Dili maupun yang ingin mengungsi ke Atambua tertahan di Liquisa. Mereka tidak diperkenankan meneruskan perjalanan ke Dili. "Begitu juga bus umum dan kendaraan travel yang melayani route Dili-Kupang pergi pulang tidak beroperasi," kata Melki Ballo, staf Imigrasi Atambua di perbatasan Motaain, Sabtu (29/4/2006).Ia mengakui KBRI Dili telah mengeluarkan peringatan kepada semua WNI agar mengurungkan niatnya ke negara itu karena situasi keamanan masih mencekam. "Peringatan itu disampaikan oleh staf KBRI. WNI yang ingin bepergian ke Timor Leste diminta menunda keberangkatannya," kata Ballo. Hingga Sabtu malam, penjagaan di perbatasan kedua negara oleh aparat keamanan ditingkatkan. TNI telah menyiagakan tiga batalion di sepanjang garis batas dan telah memberlakukan status siaga satu. Ballo menambahkan, arus pelintas batas dari dan ke Timor Leste mengalami penurunan drastis. Dalam kondisi noormal, katanya, setiap hari lebih dari 70 WNI maupun warga asing yang menyeberang ke Indonesia. Alfrida Pasaribu, salah satu WNI yang hendak ke Timor Leste untuk menjemput kedua anaknya di kota Dili, Sabtu sore, terpaksa kembali ke Atambua setelah tidak diizinkan menyeberang karena tidak ada transportasi ke negara itu. "Saya khawatir dengan kondisi kedua anak saya. Saya sudah minta mereka berlindung ke KBRI tetapi mereka kesulitan keluar rumah karena takut," katanya.Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, sejak Jumat malam telah mengambil alih tanggung jawab keamanan negara dan telah mengumumkan negara dalam keadaan darurat. Kerusuhan itu dipicu oleh kebijakan Panglima Tentara Nasional Timor Leste yang memecat 591 anggota tentara dari dinas kemiliteran. Para tentara yang dipecat dan ratusan warga telah melakukan aksi protes dalam tiga pekan terakhir. Tiga orang dilaporkan tewas, satu di antaranya adalah anggota polisi nasional Timor Leste. Lebih dari 28 warga sipil dan polisi Timor Leste mengalami luka-luka. Belasan kendaraan dan rumah dibakar. Demonstran juga sempat menyerang ke kantor PM Mari Alkatiri dan gedung parlemen tetapi berhasil dihalau polisi.
(atq/)










































