SP BUMN Tak Ramaikan Demo May Day
Sabtu, 29 Apr 2006 13:58 WIB
Jakarta - Sejumlah serikat pekerja menggebu-gebu untuk meramaikan demo Hari Buruh Sedunia atau may Day pada 1 Mei nanti, tapi Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN memutuskan tidak menurunkan massanya. Pesanan Pak Menteri?"Sama sekali tidak ada tekanan dari Menneg BUMN atau lembaga pemerintah lainnya atas sikap yang kita ambil ini," tegas Ketua Presidium FSP BUMN Arif Poyuono di Hotel Aryaduta, Jalan Perapatan, Jakarta, Sabtu (29/4/2006).Keengganan FSP BUMN turun ke jalan, imbuh Arif, karena mereka melihat penolakan revisi UU Nomor 13/2003 bukan suatu substansi. Sebab yang paling penting saat ini adalah meningkatkan kesejahteraan buruh. Atas sikapnya yang tidak populer ini, pihaknya siap dengan risiko menerima kecaman dari berbagai organisasi SP lainnya. Sikap FSP, kata Arif, sudah disosialisasikan ke seluruh elemen SP BUMN yang bernaung dibawahnya, dan semua elemen mendukung sikap itu."Tapi kalau ada elemen yang besok tetap turun ke jalan, kami tidak halangi. Ini kan demokrasi. Tapi sikap resmi FSP BUMN adalah mengedepankan dialog bukan turun ke jalan," tegas dia.Lebih jauh, dia memaparkan, yang seharusnya diperangi bersama oleh buruh dan pengusaha bukan rencana revisi UU itu, melainkan pungli, korupsi dan penyelundupan yang makin marak sekarang ini. Sebab ketiganya terbukti menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan ujung-ujungnya adalah tergerogotinya kemampuan pengusaha meningkatkan kesejahteraan pekerja mereka dan melakukan ekspansi untuk membuka lapangan kerja baru.Dia memaparkan, biaya yang dikeluarkan pihak industri akibat pungli dua kali lipat lebih besar daripada upah buruh yang rata-rata hanya 12 persen dari total biaya produksi."Revisi bukan akhir dari perjuangan. Sebaik apapun UU-nya, tidak berarti apa-apa kalau masih ada korupsi, pungli dan penyelundupan," katanya.
(umi/)











































