1,9 Juta Vaksin AstraZeneca yang Dibeli Pemerintah Sudah Tiba di RI

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 22:43 WIB
Indonesia kembali menerima kedatangan vaksin COVID-19 AstraZeneca sebanyak 500.000 dosis yang merupakan donasi dari Australia dan kedatangan vaksin covid-19 tahap ke-48.
Foto: Kominfo
Jakarta -

Indonesia kembali kedatangan 1,9 juta dosis vaksin AstraZeneca. Adapun vaksin tersebut melalui mekanisme pembelian langsung.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong mengatakan kedatangan vaksin AstraZeneca pada Minggu (5/12) malam tersebut dalam rangka stabilitas stok demi kelancaran program vaksinasi di Tanah Air.

"Dengan kedatangan vaksin tahap ke-147 berupa 1.932.000 dosis vaksin AstraZeneca ini, maka total vaksin yang telah diterima Indonesia baik dalam bentuk jadi maupun bulk (bahan baku) adalah sebanyak 395.544.580 dosis," ujar Usman dalam keterangan tertulis, Selasa (7/12/2021).

"Diharapkan pada akhir tahun ini, 80% dari target sasaran telah mendapatkan setidaknya vaksinasi dosis pertama dan 60% di antaranya telah mendapatkan dosis lengkap," lanjutnya.

Dia pun meminta masyarakat agar tidak menunda vaksinasi dengan alasan menunggu merek vaksin tertentu. Dikatakannya, seluruh merek dan jenis vaksin yang digunakan untuk program vaksinasi nasional adalah sama-sama baik dan berkhasiat.

"Semakin kita menunda, semakin rentan dan tinggi risiko kita untuk tertular. Selain itu, yang menerima dampak tersebut bukan hanya diri kita sendiri, melainkan juga orang-orang di sekitar kita. Itulah mengapa pemerintah terus berusaha melakukan akselerasi cakupan vaksinasi. Agar semakin banyak orang tervaksin, terlindungi, dan kekebalan kelompok segera terbentuk," terangnya.

Usman juga mengimbau masyarakat agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru 2022.

"Hindari mobilitas yang tidak perlu dan jauhi kerumunan. Serta tetap pakai masker. Dengan ikhtiar kita bersama, semoga kondisi yang cukup landai saat ini dapat terus dipertahankan, berlanjut hingga tahun depan tanpa adanya lonjakan kasus," pungkas Usman.

(akd/ega)