Awan Hitam Mengepul Bagaikan Bunga Kol

Kenangan Letusan Merapi

Awan Hitam Mengepul Bagaikan Bunga Kol

- detikNews
Jumat, 28 Apr 2006 14:03 WIB
Jakarta - Letusan Merapi 1994 dan 1997 selalu diikuti oleh awan hitam yang mengepul dari Puncak Merapi. Awan hitam itu bergerak cepat seakan mengejar manusia. Awan hitam yang mengepul itu bagaikan bunga kol. Memang mengerikan! Inilah kisah yang ditulis pembaca detikcom, Histina Andri Nuryana, dalam e-mailnya ke redaksi detikcom, Jumat (28/4/2006). Andri yang baru dua tahun pindah ke Jakarta untuk bekerja ini, sebelumnya tinggal di Jl. Kaliurang Km 16,2, Yogyakarta, sekitar 13 Km dari Gunung Merapi. Andri menyaksikan sedikitnya tiga kali letusan, tahun 1994, 1997, dan 2001. Dari tiga kali letusan ini, letusan 1994 yang paling besar. Di tahun 1994, Merapi meletus pada hari Selasa Kliwon tanggal 22 November pukul 09.30 WIB. Saat itu, Andri masih duduk di bangku SLTP kelas 2. Andri dan teman-temannya saat itu agak telat mengetahui kalau Merapi meletus. "Waktu itu kita memang mendengar suara letusan, tapi kita tidak ada yang mengira bahwa itu adalah letusan gunung Merapi, karena letak sekolahan saya berada di daerah yang cukup ramai," kisah Andri. Dia tahu bahwa letusan itu adalah Merapi setelah banyak orang tua yang menjemput anak-anaknya ke sekolah. Setelah diketahui Merapi meletus, proses belajar mengajar pun dihentikan, murid-murid dipulangkan. Tidak berapa setelah Merapi meletus, cuaca terasa panas dan mendung. "Saya masih bisa melihat gumpalan awan hitam di atas Merapi dan sepertinya awan tersebut akan datang menghampiri arah saya," tulis Andri. Memang mengerikan. Namun, menurut Andri, sebenarnya ada pemandangan yang sangat indah setelah beberapa jam Merapi meletus. Di malam hari, lava pijar dari Puncak Merapi tampak sangat indah. "Saya sering ke luar rumah pada malam hari hanya untuk melihat lava pijar tersebut. Banyak warga lain juga begitu," kata dia. Selain tahun 1994, Andri juga menyaksikan letusan Merapi tahun 1997. Waktu itu, Andri duduk di kelas 1 SMU. Kebetulan SMU Andri terletak paling utara di Yogya. Jaraknya sekitar 8 Km dari Merapi. "Saat itu hari Jumat ketika kita sedang berdoa untuk pulang sekolah, tiba tiba teman saya yang memimpin doa berteriak Merapi meletus, spontan kita yang berada di dalam kelas langsung melihat ke arah gunung dan saat itu pemandangannya saat menakjubkan. Awan hitam mengepul di atas Merapi bagaikan bunga kol (sayuran)," kenang Andri. Serentak semua orang panik dan buru buru-buru ke luar ruangan karena awan hitam bergerak ke arah sekolahan. "Beruntung awan hitam itu terbawa angin dan bergerak ke arah timur," ujar dia. Di Jl. Kaliurang, sirene bahaya pun berbunyi keras dan lama. "Akhirnya kita bisa turun 1 km ke daerah aman karena sekolah saya berada di atas daerah yang cukup bahaya. Batas wilayah aman di jalan kaliurang adalah wilayah kantor polisi sektor Pakem di km 18 sekitar 6 km dari titik nol jl. Kaliurang," kata andri. Letusan Merapi tahun 1997 tidak banyak memakan korban jiwa seperti tahun 1994. Letusannya tidak besar, tapi cukup membuat panik warga. Banyak orang yang mengabadikan peristiwa itu dan mengambil gambarnya. Mereka menjual foto tersebut dan ada juga yang menyimpangnya untuk sekadar kenang-kenangan. Andri juga teringat siaga Merapi tahun 2001. Saat itu, Merapi mengeluarkan isi perutnya, tetapi hanya sedikit, tidak seperti tahun 1994 dan 1997. "Berita-berita di media massa cukup heboh, tapi sebenarnya kita yang tinggal di lereng Merapi sendiri tidak merasa ketakutan yang berlebihan," aku Andri. Dari kejadian itu semua, Andri tergerak untuk bergabung dalam kepramukaan yang berkonsentrasi terhadap evakuasi bencana Merapi dengan bergabung dalam Saka Bayangkara dan Saka Baktihusada. "Tapi ilmu yang saya peroleh belum sempat saya praktekkan langsung dalam kejadian yang sesungguhnya, saya berharap bisa pulang kampung untuk membantu bila Merapi jadi meletus," kata dia.Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads