Tiru Jakarta, Waket DPRD Usul Ada Badan Pengelola Cagar Budaya Surabaya

Nada Zeitalini Arani - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 20:05 WIB
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony
Foto: DPRD Surabaya
Jakarta -

DPRD Kota Surabaya bersama Pemerintah Kota tengah membahas Raperda Cagar Budaya. Hal itu dilakukan untuk menyempurnakan Perda Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony mengatakan bahwa penyempurnaan Perda Cagar Budaya menjadi hal penting untuk dilakukan. Pasalnya itu akan menyesuaikan UU Cagar Budaya nomor 10 tahun 2011.

"Perda Cagar Budaya nomor 5 tahun 2005 sudah tidak up to date, karena lebih mengatur pada upaya pelestarian bangunan cagar budaya. Padahal saat ini juga dibutuhkan revitalisasi fungsi bangunan cagar budaya" ujar Thony dalam keterangan tertulis, Jumat (3/12/2021).

Ia mengatakan kalau Raperda selesai, implementasinya bisa sinkron dengan Perda yang diinisiasi oleh A.H Thony yaitu Perda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Kota Surabaya. Perda tersebut saat ini masih dalam proses di Bapemperda DPRD Kota Surabaya.

Di dalam Perda tersebut ada 10 objek kebudayaan yang diamanatkan untuk dimajukan berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun 2017. Ada juga dua objek lain yg selama ini sudah melekat sebagai identitas Surabaya, yaitu obyek kejuangan dan kepahlawanan.

"Saya mengusulkan ditambah dua poin lagi, yaitu nilai kejuangan dan kepahlawanan. Ini perlu diperkuat, sehingga karakter Surabaya sebagai Kota Pahlawan, akan nampak dan membuat beda dengan kota lainnya," ungkapnya.

Menurutnya, dalam Perda cagar budaya juga akan mengatur badan yang bertanggung jawab terhadap keberadaan cagar budaya.

"Badan ini diberikan kewenangan penuh terhadap bagaimana melestarikan dan merevitalisasi fungsi bangunan cagar budaya. Dan di back up oleh anggaran. Karena selama ini kajian yang dilakukan oleh Tim Cagar Budaya hanya sebatas kajian tidak ada tindak lanjutnya," tuturnya.

Thony mengaku cemburu dengan Kota Semarang dan Jakarta. Sebab keduanya mempunyai Badan Pengelola Kota Tua. Padahal menurutnya sejarah dan warisan bangunan di Surabaya tak kalah dengan 2 kota tersebut.

"Kita lihat di Jakarta dan Semarang, kota tua yang dulunya terabaikan sekarang menjadi menjadi tujuan dan menarik perhatian para wisatawan," ujarnya.

"Kita lihat kawasan kota tua di sekitar Jembatan Merah. Kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Namun hanya sekedar penetapan tapi tidak direvitalisasi. Dengan adanya badan pengelolaan cagar budaya diharapkan bisa melakukan lebih dari itu" pungkasnya.

(ncm/ega)