Spesial! Ini Satu-satunya Negara Afrika Diundang RI ke KTT G20

Sui Suadnyana - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 17:59 WIB
Presidensi G20 Indonesia
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Dok. Kemenko Perekonomian)
Denpasar -

Indonesia dipastikan menjadi tuan rumah dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi The Group of Twenty (KTT G20) pada 2022 mendatang. Dalam perhelatan itu, Indonesia mengundang satu negara dari Benua Afrika di luar anggota G20, yakni Rwanda.

"Dalam Presidensi G20 nanti, Indonesia juga mengundang negara yang mewakili Afrika di luar G20, yaitu Rwanda," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Rapimnas Kadin di Bali, Jumat (3/12/2021).

Airlangga mengungkapkan, Indonesia mengundang Rwanda dalam perhelatan KTT G20 karena negara tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Hal itu mewakili 1,9 miliar penduduk di Benua Afrika.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah G20 yang sifatnya inklusif," terang Airlangga.

Biasanya, menurut Airlangga, agenda-agenda G20 didikte oleh negara-negara G7. Adapun negara G7 yang dimaksud Airlangga ialah Amerika Serikat (AS), Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada.

Adapun Indonesia adalah negara berkembang pertama yang memimpin perhelatan G20. Karena itu, dalam memimpin Presidensi G20, Indonesia akan mewakili negara-negara berkembang.

Saat Presidensi G20, terdapat tiga hal yang menjadi prioritas sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu terkait dengan penanganan kesehatan yang inklusif, working group keuangan, dan finance. Agenda ini diharapkan bisa menangani krisis pandemi COVID-19 seperti krisis ekonomi saat G20 dibentuk pada 1998 sampai 1999 dan krisis pada 2008.

"Dan krisis yang saat ini kita alami adalah krisis daripada kesehatan. Kalau dulu kita melihat bahwa krisis ekonomi ini kita melihat sebagai island seperti SARS di Hong Kong bisa di-countain, ataupun Middle East Respiratory Syndrome yang bisa ditahan di Middle East," terangnya.

"Tetapi hari ini kita melihat bahwa dunia global ini menjadi satu kapal masing-masing negara itu merupakan kabin-kabin. Mungkin kabin kita selamat, tetapi di kabin sebelah masih ada pandemi COVID-19 sehingga kita tidak berani keluar dari kabin," kata dia mengumpamakan.

Baginya, di dalam 'kabin' ada emerging countries, ada negara kaya dan ada list development countries. Karena itu, walaupun negara kaya, semuanya sudah memperoleh vaksin dan sudah tumbuh positif, tetapi masih banyak negara-negara lain, seperti Afrika yang vaksinasinya baru 7 persen, termasuk di Afrika Selatan yang baru 24 persen.

"Leadership Indonesia-lah yang diperlukan agar ini bisa lebih merata. Kalau semuanya tidak merata, maka kita belum aman, walaupun berada di kabin di dalam kapal, tetapi di atas dek, banyak negara-negara yang belum memperoleh vaksin," ungkapnya.

(jbr/jbr)