6 Indikator yang Dimonitor Satgas untuk Antisipasi Lonjakan COVID-19

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 13:38 WIB
Jubir Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menegaskan meskipun kondisi kasus sedang terkendali, perlunya adanya persiapan dengan memantau kondisi COVID-19 dari berbagai aspek. Setidaknya ada 6 indikator yang dimonitor secara berkala.

Saat ini, Indonesia tengah memasuki masa pergantian tahun menuju 2022 yang terdapat periode libur Natal dan Tahun Baru. Tentunya ada potensi lonjakan kasus karena meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat yang memanfaatkan masa libur. Sedangkan ada ancaman varian terbaru B.1.1.529 atau Omicron.

Karenanya, Satgas punya 6 indikator yang dimonitor secara berkala untuk memantau kondisi COVID-19. 6 indikator tersebut antara lain kasus aktif, bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit dan wisma atlet, kepatuhan protokol kesehatan (prokes), Rt atau angka reproduksi efektif, mobilitas penduduk dan vaksinasi.

"Saat ini, meskipun kasus mingguan mengalami penurunan, namun jika dilihat pada kasus aktif ternyata sempat mengalami peningkatan 4 hari berturut-turut," Wiku dikutip dari covid19.go.id.

Kasus aktif menjadi indikator pertama untuk dicermati dengan data menunjukkan, kenaikan pada 23 ke 24 November 2021. Angkanya dari sekitar 7.900 menjadi 8.000, kemudian di hari berikutnya meningkat lagi menjadi sekitar 8.000 dan terakhir meningkat menjadi 8.200 pada 27 November. Bahkan di Jawa-Bali saja, peningkatan selama 6 hari berturut-turut, dari 23 November sekitar 3.600 kasus, hingga 28 November sekitar 3.800 kasus aktif.

Indikator selanjutnya, BOR ruang isolasi di RS rujukan yang angkanya sempat meningkat pada 2 hari terakhir, dari 2,94% menjadi 3,07%. BOR di wisma atlet juga meningkat di bulan November, dari 1,76% menjadi 2,2%.

"Meskipun peningkatan terbilang kecil, namun perlu diwaspadai karena peningkatan BOR mengindikasikan adanya kenaikan kebutuhan treatment pada gejala sedang-berat," ungkap Wiku.

Indikator selanjutnya, Rt atau angka reproduksi efektif yang saat ini angkanya masih di bawah 1, namun perlu diwaspadai trennya dalam 5 minggu terakhir meningkat dari 0,96 menjadi 0,98. Hal yang sama juga terjadi pada tingkat pulau yang angkanya mendekati 1.

Hampir semua pulau mengalami kenaikan kecuali Maluku yang mengalami penurunan dan Nusa Tenggara dengan nilai Rt tidak berubah. Rt di tingkat pulau saat ini berkisar antara 0,95-0,99.

Indikator berikutnya yang juga penting, adalah mobilitas penduduk, dari data mobilitas kereta api meningkat 5 kali lipat dalam 5 bulan terakhir. Jumlah perjalanannya per Juli lalu sekitar 100 ribu perjalanan. Sedangkan November ini meningkat hampir mencapai 600 ribu.

Mobilitas dengan pesawat terbang juga meningkat mencapai 350% dalam 5 bulan terakhir. Per Juli lalu, jumlah perjalanannya sekitar 350 ribu, sedangkan per November meningkat hingga sekitar 1,6 juta penerbangan.

Indikator selanjutnya adalah kepatuhan protokol kesehatan yang idealnya peningkatan aktivitas masyarakat harus dibarengi peningkatan kepatuhan protokol kesehatan. Sayangnya, data di minggu terakhir menunjukkan sebaliknya. Cakupan desa/kelurahan yang patuh memakai masker dan menjaga jarak mengalami penurunan.

Rinciannya, cakupan desa/kelurahan yang patuh memakai masker turun dari 76,42% menjadi 74,91%, sedangkan menjaga jarak turun dari 78,60% menjadi 77,69%. Jumlah laporan desa/kelurahan yang dipantau juga terus mengalami penurunan, dari sekitar 21 ribu desa/kelurahan pada bulan Juli, menjadi hanya 9 ribu per minggu ini.

"Ini menunjukkan bahwa pengawasan dan pelaporan pada protokol kesehatan sudah mulai longgar tegas Wiku.

Indikator terakhir, ialah angka cakupan dan laju vaksinasi dengan data menunjukkan penurunan jumlah suntikan harian selama 4 minggu terakhir. Sebagai catatan, meskipun capaian dosis 1 vaksin hampir 70%, namun capaian dosis 2 baru mencapai 45%.

Melihat pembelajaran dari negara lain, menunjukkan peningkatan jumlah kasus tetap berpotensi terjadi bahkan di negara-negara dengan cakupan dosis 2 yang tinggi.

"Karena itulah, meningkatkan cakupan vaksin dosis harus dilakukan segera. Agar dapat memproteksi masyarakat dengan maksimal," imbuh Wiku.

Untuk itu, dengan melihat perkembangan pada indikator-indikator tersebut, berbanding terbalik antara kenaikan jumlah kasus dan upaya preventif di lapangan. Capaian pada indikator tersebut seharusnya menjadi refleksi untuk kembali waspada dari seluruh lapisan masyarakat.

Wiku juga mengimbau kepada Pemerintah Daerah harus memonitor penerapan prokes dan cakupan vaksinasi di daerahnya masing-masing dan juga daerah sekitarnya. Ia juga mengimbau masyarakat menerapkan protokol kesehatan ketat di tengah meningkatnya mobilitas dan ancaman varian baru Omicron.

"Penerapan protokol kesehatan adalah cara utama kita untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita," lanjutnya.

Sementara, perlindungan dengan vaksin tak kalah penting karena semakin banyak orang divaksin, maka semakin banyak yang terlindungi.

"Vaksinasi juga akan mencegah timbulnya gejala berat bagi mereka yang tertular COVID-19 sehingga dapat mengurangi kebutuhan perawatan di Rumah Sakit," pungkas Wiku.

(ega/ega)