Kolom Hikmah

Keluarga

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 07:43 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Keluarga merupakan unit terpenting dari setiap masyarakat. Jika keluarga ini kuat, maka bangsa dan negara akan kuat. Oleh karena itu, keluarga menjadi dasar bangsa dan negara, tidak boleh menjadi sesuatu yang dimulai tanpa perencanaan yang matang. Keluarga harus dibangun dengan keimanan yang kuat, oleh karena itu kedua orang laki dan perempuan yang mengikat diri dalam perkawinan mempunyai visi yang sama ( dekat ). Keluarga atau masyarakat yang dibangun dari anggota-anggota keluarga yang imannya lemah bukanlah keluarga atau masyarakat yang baik. Masyarakat seperti ini tidak dapat membentuk bangsa yang baik.

Pencapaian masyarakat yang sempurna dimulai dari rumah, yaitu keluarga yang dibangun bersama-sama antara suami dan istri. Keluarga bukanlah pabrik untuk memproduksi anak. Keluarga adalah bagian terpenting dari masyarakat dan benih pertama dari sebuah bangsa. Bisa kita bayangkan ketika salah menanam benih sawit, setelah 48 bulan ketahuan dan harus dibuang untuk diganti benih yang benar. Betapa besar kerugian komersial termasuk kehilangan waktu 4 tahun. Bagaimana jika suatu bangsa menyemai benih warga negara maupun pemimpin yang kurang tepat? Apakah negara tersebut berkembang sesuai tujuan untuk menciptakan kesejahteraan dan kedamaian? Tentu jawabannya, Tidak !

Di negeri paman Sam jika melakukan seleksi pemimpin ( pilihan presiden ) akhlak dalam keluarga menjadi faktor utama. Suatu negeri yang dikatakan longgar sekali norma-norma kehidupannya. Maka dari itu, pembentukan keluarga dengan anggota-anggotanya mempunyai keimanan yang baik akan mendorong pengembangan suatu bangsa yang kokoh. Keimanan ini menjadikan jalan paling dekat menuju kebenaran, apalagi diperkuat dengan ilmu pengetahuan ( termasuk pengetahuan spiritual ). Di jalan ini, jiwa seseorang akan mampu mencapai kemenangan, namun jika jiwa tanpa iman dan ilmu menjadikan buta mata hati yang akan menggusur kebenaran. Disini pengembangan suatu bangsa akan keropos dan rapuh, sehingga tinggal menunggu waktu keruntuhannya.

Dalam keluarga yang dibangun dengan berkah dan ketulusan, yaitu keluarga dibangun di atas penyatuan seorang laki dan wanita yang berakhlak luhur, beriman, bertanggung jawab, maka rumah yang dibangun seperti sebuah istana surgawi. Tangisan anak-anak dalam keluarga ini laksana tasbih malaikat kepada Sang Pencipta, dan tangisan itu dianggap sebagai sebentuk do'a.

Mari kita simak ajaran Islam tentang ini dalam firman-Nya pada surah al-Ahzab ayat 35,
" Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut ( nama ) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."

Laki-laki dan perempuan yang bersatu dalam sebuah keluarga sebagai muslim dan mukmin. Mereka bersandar hanya pada Allah Swt. tulus dalam kehadiran-Nya dan lindungan Ilahi, menghabiskan waktu di bahtera kehidupan dalam do'a dan selalu mengingat-Nya. Mereka dalam berprilaku menunjukkan berakhlak, berkata benar dan sesuai dengan perbuatannya. Inilah panutan kehidupan yang baik bagi anak-anak mereka, maka terciptanya lingkungan yang baik dimana prilaku orang tua sebagai cermin bagi anak-anak dapat melihat diri mereka sendiri.

Laki dan perempuan yang sabar adalah hamba-hamba yang mementingkan ketaatan ibadah, menahan lisan dari keluhan saat memikul beban cobaan. Mereka selalu menjaga diri dari dosa dan selalu mengingat-Nya. Suasana keluarga yang diciptakan bagi anggotanya adalah adanya rasa hormat pada Allah Swt. dengan pengabdian, kelembutan dan ketenangan. Adapun semangat untuk berbuat baik dilakukan secara terbuka, seperti berbagi dalam bentuk sedekah. Anak-anak akan dilatih sikap bermurah hati dan ikut berempati pada kehidupan fakir miskin. Seorang ayah yang muttasadik dan seorang ibu yang muttasadika, in syaa Allah anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga seperti ini akan mempunyai kesempatan menjadi orang yang baik hati.

Dalam keluarga yang dibangun selalu taat pada ajaran Allah Swt. seperti menjalankan puasa, mengeluarkan zakat dan menjaga kehormatannya, maka mereka akan mampu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Keluarga yang dirajut oleh laki dan perempuan yang mendasarkan kepatuhannya Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah, maka pintalan yang mereka buat adalah dua benang paling suci dari semua kain. Masyarakat atau bangsa yang dibangun dari keluarga seperti ini adalah kandidat masyarakat dengan penghuni yang saling hormat, saling membantu dan menghargai menuju pada kehidupan harmonis, aman dan damai.

Kokohnya keluarga muslim dalam suatu masyarakat akan memberikan cahaya ketenangan, menjadikan pioner dalam kebaikan dan ringan tangan dalam membantu keluarga yang lagi menerima cobaan/musibah. Kejadian banjir bandang, longsor dan musibah lainnya, bukan menjadi panggung untuk melakukan pencitraan, semata-mata ikhlas terpanggil karena perintah Allah Swt. untuk membantu yang lagi kesusahan.

Sekali lagi ingatlah bahwa membangun keluarga bukanlah sekedar melepaskan nafsu, namun rencanakan dengan teliti dan mendetail khususnya kesamaan tujuan. Penulis saran bahwa, Pemerintah saat ini maupun yang akan datang memikirkan " membangun keluarga " yang kokoh, dengan kokohnya keluarga maka bangunan bangsa akan lebih kuat menuju negeri makmur yang gemah ripah loh jinawi.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)