Kontemplasi Qalbu (15)

Mempermanenkan Istiqamah

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 04:56 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Foto: M. Fakhry Arrizal
Jakarta -

Untuk mengatur dan menyeimbangkan penarikan dan pengeluaran Rekening Tabungan Sosial dan Rekening Tabungan Spiritual sangat diperlukan adanya istiqamah. Istiqamah berasal dari bahasa Arab dari akar kata qama-yaqumu berarti berdiri, menegakkan. Dari akar kata ini melahirkan kata istiqamah berarti lurus, konsisten; lawannya bengkok dan tidak konsisten. Menurut ulama spiritual-tasawuf istiqâmah ialah memenuhi segala janji yang telah diikrarkan dan tetap berada di atas jalan lurus (shirath al-mustaqim). Jalan lurus yakni memelihara batas-batas penengah dan keadilan dalam segala urusan, baik dalam hal makan, minum, pakaian, sampai pada urusan rumah tangga seperti perkawinan.

Tegasnya istiqamah mencakup urusan agama dan dunia. Barangsiapa diberi petunjuk mengetahui jalan lurus (shirath al-mustaqim) di dunia, maka hal itu akan menjadi penyebab sukses seseorang di dalam melewati jalannya menuju akhirat. Petunjuk mengetahui jalan lurus merupakan nikmat Allah yang sangat besar terhadap hamba. Petunjuk ini hanya hamba pilihan Tuhan yang berhak mendapatkannya, sebagaimana firman-Nya: "Allah menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. Yunus/10: 25).


Bagi orang yang sudah sampai ke dalam suasana batin istiqamah, maka nisacaya akan gampang mengatur penarikan dan penyetoran RTS-nya dengan baik. Ia akan betul-betul harus bersyukur karena Allah memberikan jaminan keberuntungan baginya sebagaimana di dalam firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (QS. Al-Ahqâf [46]: 13). Dalam ayat lain dikatakan: "Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)." (QS. Al-Jinn [72]: 16).

Di dalam hadis Nabi juga pernah ditegaskan: "Beristiqâmahlah dan jangan menghitung-hitung (amalmu). Ketahuilah sebaik-baik amal kamu ialah salat." Orang yang suka menghitung amalnya bukan hanya istiqamahnya bermasalah tetapi juga keikhlasannya dalam beramal. Kita tidak akan pernah menghitung seluruh nikmat yang Allah berikan kepada kita, tetapi kenapa kita mau menghitung apa yang kita persembahkan kepada Allah. Intiqamah selalu mengundang keilkhlasan.

Ad-Daqqâq pernah menjelaskan bahwa, istiqâmah itu ada tiga tingkatan: 1) Taqwim (penegakan) sebagai proses latihan nafsu, 2) Iqâmah (berdiri) sebagai pendidikan hati, dan 3) Istiqâmah sebagai pendekatan rahasia-rahasia. Orang yang istiqamah berarti tangguh dalam prinsip, dapat dipercaya, amanah, dan memiliki banyak sifat terpuji di dalam dirinya. Istiqamah hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa besar. Karena istiqamah mempunyai berbagai tantangan, maka barangsiapa yang mampu memelihara di dalam dirinya maka akan tenteram dan tenang hidupnya.

Tentu saja istiqamah bukan hanya untuk orang perorangan tetapi juga untuk suatu komunitas atau masyarakat. Jika suatu komunitas tidak punya istiqamah sama dengan tidak punya visi dan misi, tidak jelas ke mana arah dan tujuannya. Suatu komunitas tanpa tujuan maka ajalnya akan terancam. Dalam Al-Qur'an, bukan hanya orang yang punya ajal tetapi juga suatu komunitas atau orde, sebagaimana firman Allah: Likulli ummatin 'ajal (setiap suatu komunitas punya ajal). Kita dianjurkan bermohon agar usia diri dan komunitas kita bertambah panjang. Jiwa atau kalbu yang stabil secara tidak langsung memperpanjang umur dan menangkal berbagai penyakit. Mari kita merawat istiqamah kita dengan baik.


Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)