Sultan Akan Temui Warga Merapi

Sultan Akan Temui Warga Merapi

- detikNews
Kamis, 27 Apr 2006 22:05 WIB
Yogyakarta - Sampai saat ini di wilayah Sleman belum ada pengungsian, karena belum tahu kapan Merapi akan meletus. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X akan menemui warga Kecamatan Cangkringan, Turi dan Pakem yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB)."Ya nanti hari Minggu saya akan kesana. Kita kan nggak bisa memprediksi, njebluk opo ora (meletus apa tidak)," kata Sultan di kantor Kepatihan Jl Malioboro, Kamis (27/4/2006). Menurut dia, sekarang ini, Pemda Sleman memang belum meminta warga turun menuju ke barak pengungsian. Namun saat ini mereka dikumpulkan di tempat-tempat yang terdekat dengan tempat tingal. Dengan demikian, katanya, bila ada evakuasi akan lebih mudah. Sekarang mereka bisa berkumpul di dekat bunker, karena itu dianggap tempat yang paling aman. "Memang belum masuk ke tempat pengungsian, nanti kita lihat besok perkembangan hari Minggu, apakah masih tetep disitu atau ditarik lebih kebawah," katanya.Ditanya kemungkinan status siaga yang cukup lama, dia mengungkapkan ketidak tahuannya. Bagi Sultan permasalahannya terletak pada siklus lima tahunan, bukan dua setengah tahunan. Siklus lima tahunan tersebut dikhawatirkan tidak seperti yang diyakini masyarakat selama ini, seperti adanya wisik, mimpi ataupun binatang-binatang yang turun. Menurut dia, masalah saat ini bukan siklus dua setengah tahunan saja tapi ini siklus 5 tahun. Sultan khawatir bila lavanya hanya sampai di kepundan sajatidak terus meleleh sehingga membuat lingkungannya panas. Kalau lava nggak bisa keluar kepundan karena tertutup material yang ada di atas dan tetap dibawah, dikhawatir akan menjebol dengan kekuatan besar. "Saya khawatir dorongan magma ke atas dapat menjebol kepundan yang sudah dingin ini dengan kuat, sehingga mampu naik ke atas dan meruntuhkan daerah geger boyo. Itu berarti tidak ada tanda apapun. Panas juga tidak," katanya. Dia mengingatkan, siklus lima tahunan tanda-tanda yang diyakini masyarakat selama ini harus dipahami lebih. Sultan sendiri meyakini bila siklus lima tahunan dari Gunung Merapi sangat berbeda dengan siklus dua setengah tahunan seperti yang dipahami masyarakat sekitar Merapi yang selalu didahului adanyatanda-tanda alam apabila akan meletus. "Apakah betul, untuk karakteristik siklus lima tahunan Merapi akan sama, dengan adanya tanda-tanda seperti yang dipahami masyarakat dengan siklus dua setengah tahunan itu," katanya. Sultan menambahkan Merapi meletus secara horizontal dengan menembus geger boyo bisa saja terjadi. Sebab letusan tahun 1994, juga tidak melalui tengah. Hanyamengeluarkan guguran awan panas (wedus gembel-Red) yang melewati samping. (jon/)


Berita Terkait