Menkum HAM Minta Pemerasan di Lapas Dimaklumi
Kamis, 27 Apr 2006 18:19 WIB
Jakarta - Pemerasan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas/LP) sudah menjadi rahasia umum. Menkum HAM Hamid Awaludin pun tidak menepisnya. Dia minta realita itu dilihat secara objektif."Kita menerima dan mengakui memang di dalam petugas saya banyak yang nakal," ujar Hamid di sela HUT ke-2 Pemasyarakatan di Pusdiklat Depkum HAM, Jalan Gandul, Cinere, Jakarta, Kamis (27/4/2006).Kehidupan di LP, katanya, adalah miniatur dari kehidupan di luar. "Tidak hanya oleh sipir, tapi sesama napi juga saling memeras," ungkap dia.Mengenai penitipan handphone di LP Cipinang yang memaksa pengunjung merogoh kocek, bagi Hamid hal itu tidak ubahnya seperti orang menitip sandal di masjid. Hamid meminta kendala operasional Lapas ini dipahami dengan objektif."Jumlah napi tidak sebanding dengan jumlah yang menjaga. Jumlah napi juga tidak sebanding dengan infrastruktur yang ada," katanya.Namun Hamid membantah hal itu dikaitkan dengan kelemahan pihaknya yang bisa tidak memprediksi masalah over kapasitas Lapas.Dia menyalahkan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan yang suka menitipkan tahanan tanpa memperhatikan kapasitas Lapas. "Orang yang menitipkan tidak pernah menitip sekalian dengan uang makannya," cetus dia.Untuk meningkatkan kesejahteran Lapas, DPR telah menaikkan anggaran Depkum HAM sebesar 111 persen dalam APBN 2006. Dari jumlah tersebut, porsi terbesar ada di LP.Sebanyak Rp 200 miliar sudah digelontorkan bagi kesejahteraan napi dan penjaga Lapas. Uang makan napi yang semula Rp 5.500/hari kini menjadi Rp 10.000. Uang jaga malam yang semula Rp 2.800/sipir kini menjadi Rp 15.000. Uang tunjangan yang rata-rata Rp 110 ribu kini menjadi Rp 200 ribu dan belum termasuk tunjangan risiko."Dari jumlah itu tetap ada yang kita sisihkan untuk pembangunan penjara, tapi bertahap dan perlahan-lahan," katanya.
(umi/)











































