Kontrak Freeport Habis 2041, Bagaimana Nasib Reklamasi Area Tambang?

Mustiana Lestari - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 12:00 WIB
reklamasi Grasberg Freeport
Foto: Grandyos Zafna
Tembagapura -

Izin tambang PT Freeport Indonesia berakhir di 2041 nanti. Kendati belum diketahui nasib Freeport setelah 2041, namun perusahaan yang telah beroperasi sejak 50 tahun ini sudah kian matang mereklamasi atau memulihkan sebagian area tambangnya, salah satunya tambang terbuka Grasberg.

Setelah ditutup tahun 2019, progres reklamasi Grasberg makin optimal. General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PTFI, Pratita Puradyatmika, mengatakan proses reklamasi sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1999 namun masih dalam skala yang kecil.

"Di tahun 2020 jumlah kawasan yang berhasil di reklamasi itu seluas 432 ha dan sampai nantinya jika seluruh Grasberg bisa direklamasi itu ada 900 ha. Kita sudah mencapai 50 persen dari total reklamasi," jelas dia kepada detikcom di tambang Grasberg, beberapa waktu lalu.

reklamasi Grasberg Freeportreklamasi Grasberg Freeport Foto: Grandyos Zafna

Adapun vegetasi yang ditanam di sini berupa rerumputan dan semak yang tanamannya merupakan hasil nursery atau dari tempat lain yang vegetasinya tak terganggu. Sementara untuk media tanam akar, Freeport mengakali dengan kapur sehingga tanaman bisa hidup. Kemudian dilakukan pemupukan setahun sekali.

Di atas ketinggian 4.200 mdpl, pria yang disapa Tito ini memprediksi penanaman vegetasi alpine dan subalpine akan berakhir pada 2027 sampai 2030. Kendati demikian, jika kontrak Freeport habis, pemantauan akan terus berlangsung.

"Ketika penanaman berakhir misalnya di 2030 maka Freeport berkewajiban memantau semua dilakukan, seperti tanaman, fungsi ekosistem, kualitas air itu akan dipantau 50 tahun setelah operasional berakhir, misal berakhir 2041 maka pemantauan akan berjalan 50 tahun setelah itu," tegasnya.

Tujuan pemantauan ini tak lain untuk dapat mengembalikan ekosistem di area tambang sedalam 1,2 km dan lebar 4 km tersebut. Freeport mempunyai tim khusus untuk memantau perkembangan flora dan fauna.

"Di daratan ini hanya ada jenis burung 7-10 spesies dan jenis tikus dan satu predator jenis anjing liar yang dikenal sebagai Nugini Wild Dog. Itu yang akan dievaluasi progresnya, apa vegetasi area sudah memenuhi kebutuhan fauna yang bertindak sebagai konsumen," tandas dia.

Sebagai informasi, area kerja PT Freeport Indonesia sekitar 90 % terdiri dari ekosistem alami yang berbeda mulai dari ekosistem hutan mangrove, hutan rawa sagu, hutan hujan dataran rendah, hutan kerangas, hutan pegunungan, alpine dan subalpine.

reklamasi Grasberg Freeportreklamasi Grasberg Freeport Foto: Grandyos Zafna

Lokasi area kerja PTFI juga berbatasan langsung dengan Taman Nasional Lorentz (TNL), mengingat hal tersebut berbagai penelitian dilakukan guna mengembalikan vegetasi dan ekosistem asli di kawasan tersebut.

Selain di Grasberg, sejak 2005 kegiatan reklamasi juga dilakukan di pesisir di Muara Ajkwa dengan menanam mangrove seluas 401,31 Ha. Berdasarkan data yang didapat detikcom, Freeport menggelontorkan biaya reklamasi dan rehabilitasi pascatambang sebesar USD 350 juta.

Tim detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

(mul/akn)