Risaukan Resesi Ekonomi Global, SBY Serukan Penghematan
Kamis, 27 Apr 2006 17:08 WIB
Jakarta - Meroketnya harga minyak hingga mencapai US$ 74 per barel benar-benar merisaukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY mengkhawatirkan terjadinya resesi ekonomi global. SBY pun kembali menyerukan penghematan nasional. Kekhawatiran dan seruan SBY itu disampaikan kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Airbus A-330 dalam penerbangan dari Riyadh menuju Jeddah, Kamis (27/4/2006) pukul 11.00 Waktu Arab Saudi atau pukul 15.00 WIB. "Minggu-minggu lalu harga minyak dunia meroket pada tingkat US$ 73-74 per barel. Belum ada tanda-tanda untuk segera kembali menurun, meskipun sebagian perkiraan menyebutkan tidak akan lebih tinggi lagi," kata SBY sebagaimana dilaporkan wartawan detikcom Budiono Darsono yang mengikuti lawatan Presiden SBY ke Timur Tengah. Menurut SBY, jika harga minyak seperti sekarang ini, semua ekonomi akan mengalami kesulitan. Seluruh dunia! Seluruh negara akan kesulitan. Apalagi negara-negara yang memiliki kebijakan di dalam negerinya masih memberi subsidi, atau negara yang tidak memproduksi minyak. "Tapi yang jelas, semua ekonomi akan menghadapi masalah. Bisa jadi bakal ada resesi ekonomi global," tandas SBY. "Apalagi kalau ini berkelanjutan," tambah dia. Penghematan Nasional SBY pun kemudian menyerukan kepada masyarakat untuk kembali melakukan gerakan hidup hemat secara nasional. "Marilah kita secara sungguh-sungguh menerapkan hidup hemat. Hemat dalam pemakaian energi," tandas SBY. "Orang yang memiliki mobil 2,3,4 atau 5, sebaiknya benar-benar berhemat. Konsumsi BBM yang tidak perlu, benar-benar dibatasi," pinta SBY dengan serius. Gerakan hidup hemat yang dimaksud SBY, bukannya hanya sekadar hemat dalam pemakaian energi BBM, tapi juga hemat dalam segala hal, termasuk hemat dalam pemakaian air, listrik, dan juga telepon. "Kita semua juga harus memikirkan energi alternatif," ujar dia.
(asy/)











































