Film Pendek Kominfo Ajak Anak Muda di Kawasan 3T Melek Literasi Digital

Erika Dyah - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 00:09 WIB
Kemkominfo
Foto: Kemkominfo
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menghadirkan video literasi digital dalam film pendek sebagai upaya menangkis berbagai hoaks, cyberbullying, dan penipuan daring. Video kampanye ini ditargetkan untuk generasi milenial dan Z di wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal (3T).

Koordinator Literasi Digital Kementerian Kominfo, Rizki Ameliah menuturkan video kampanye yang berada di bawah payung program Gerakan Nasional Literasi Digital (GLND) Siberkreasi ini menekankan pada muatan lokal dan bahasa daerah. Melalui pendekatan ini, pihaknya berupaya menanamkan kesadaran akan pentingnya etika digital dan keamanan daring di daerah yang ditargetkan. Adapun saat ini wilayah yang menjadi target film pendek Kemenkominfo antara lain Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Sampang, dan sekitarnya.

"Generasi Z dan milenial merupakan bagian utama dari target audiens literasi digital kami, apalagi hampir 54% dari total populasi negara kita merupakan generasi Z dan milenial. Ditambah lagi, lebih dari 43% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan, tentunya penting bagi kami untuk memaksimalkan kampanye yang menargetkan masyarakat di daerah 3T," ujar Rizki dalam keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021).

Isu Literasi Digital dalam Muatan Video Atraktif

Rizki mengungkap film pendek hasil kerja sama dengan Racavana Film ini muatan berbahasa daerah untuk menjangkau generasi Z dan milenial dari kawasan 3T, yaitu Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, dan Sampang, serta area lain di sekitar Jawa Timur. Ia menambahkan film pendek ini mengeksplorasi berbagai isu penting terkait literasi digital, seperti keamanan daring, penipuan, dan keamanan siber.

"Kami mengemas literasi digital ini ke dalam bahasa daerah, sehingga kami dapat mengkomunikasikan pesan kami secara lebih personal kepada target audiens kami. Inilah sebabnya kami memilih untuk membuat seluruh film dalam bahasa Jawa. Literasi digital harus menjadi topik yang mudah dicerna, menarik, dan berdampak bagi semua orang di Indonesia dari berbagai macam daerah yang memiliki bahasa yang berbeda," tambahnya.

Mengajarkan #netiket dan Memerangi Cyberbullying

Lebih lanjut, Rizki menjelaskan film pendek ini membahas berbagai risiko serius dalam lingkungan digital melalui metode percakapan, humor, dan teknik bercerita yang menarik. Ia berharap cara ini dapat membantu menangkis berbagai hoaks di dunia maya, cyberbullying, dan penipuan daring.

Rizki menilai saat ini, keamanan daring dan etika berinternet menjadi perhatian utama netizen Indonesia dalam berinteraksi di dunia digital.

Berdasarkan Indeks Keberadaban Digital atau laporan global tahunan yang meneliti level kesopanan dan risiko daring pada generasi muda dan masyarakat dewasa, netizen Indonesia berisiko menjadi korban penipuan internet dan pelecehan daring. Rizki menyebutkan laporan tersebut juga menemukan hampir 50% netizen yang disurvei mengaku pernah terlibat dalam cyberbullying.

Kemkominfo Foto: Kemkominfo

Sementara itu, survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) baru-baru ini mengungkapkan bahwa 31,6% korban pelecehan dan penipuan daring di Indonesia merasa tidak berdaya untuk membela diri dari hal-hal tersebut. Isu seperti ini banyak terjadi di daerah pedesaan yang terpencil, bahkan diketahui 38,4% netizen yang disurvei mengaku tidak memiliki pengalaman yang cukup di dunia digital.

"Melalui film pendek ini, kami ingin mengajarkan etika berinternet (netiket) yang benar kepada netizen Indonesia, mendorong mereka untuk menjaga pola komunikasi daring yang aman, serta cakap dalam melindungi diri dari cyberbullying dan penipuan daring," ujar Rizki.

Sebagai informasi, film pendek yang tersedia dalam bahasa Jawa dengan subtitle Bahasa Indonesia ini dapat diakses melalui tautan berikut ini.

(akn/ega)