Di Sini Urusan Panu Sampai Kelas Internasional Anak Papua Diperhatikan

Mustiana Lestari - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 11:47 WIB
Sekolah Asrama Taruna Papua
Foto: Grandyos Zafna

Siswa Menangis, Tak Mau Mandi hingga Didoakan

Sekolah dengan siswa 1.104 ini sejak 2 tahun lalu telah memiliki akreditasi A unggul. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Angga Rumende mengatakan banyak tantangan yang harus dihadapi ketika menerima anak-anak dari suku pedalaman ini.

"Tantangan menerima anak-anak pedalaman di antaranya anak yang belum tahu bahasa Indonesia, tidak pernah melihat orang berbeda warna kulit dan rambut dari mereka, itu keunikan dan jadi tantangan khusus kami," cerita dia.

Ada juga anak yang menangis terus saat dititipkan dan belum bisa lepas dari orang tua.

"Biasanya anak yang menangis terus kita panggil orang tuanya, jadi boleh dibawa dulu, istilahnya didoakan," lanjut Angga.

Ada pula cerita anak-anak yang ngambek dan ogah mandi sampai-sampai harus dibujuk jalan-jalan keliling kota dengan mobil.

Sekolah Asrama Taruna PapuaSekolah Asrama Taruna Papua Foto: Grandyos Zafna

Namun katanya, tak boleh ada anak yang tertinggal karena semua anak itu sama sehingga sering kali guru diharuskan menjadi teman dengan mengajarkan anak makan bersama, memberi perhatian, ketika sakit harus dirawat sampai sembuh. Dengan perhatian seperti ini, alhasil anak-anak emas terlahir dari asrama ini.

"Banyak yang sudah berkuliah di Semarang, Jakarta, Manado. Anak-anak kami ada yang pernah juara satu se-Papua untuk lomba tutur cerita. Kami pernah ikut Marching in Harmony dan juara 2 tingkat nasional untuk pianika," ucapnya bangga.

Sementara itu Director Development and Community Relationship PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma mengatakan selain mendukung sekolah ini, Freeport juga telah memberikan 12 ribu beasiswa untuk anak Papua di Papua dan daerah Indonesia lainnya.

"Selain itu juga ada guru kontrak, kami membantu lewat guru kontrak kami menyediakan guru di daerah terpencil," sebutnya.

Freeport memberikan 11.566 beasiswa sejak 1996 dan mengelola 6 Asrama. Selain itu Freeport juga membangun Institut Pertambangan Nemangkawi yang telah mendidik lebih dari 4.000 siswa (91% dari Papua) dan menyerap 2.764 lulusan untuk bekerja di Freeport.

Tim detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.


(mul/akn)