Aliran Lava Meluncur 300 Km/Jam

Kenangan Letusan Merapi

Aliran Lava Meluncur 300 Km/Jam

- detikNews
Kamis, 27 Apr 2006 14:52 WIB
Jakarta - Seberapa cepat aliran lava meluncur dari puncak Merapi bila gunung ini meletus? Pada letusan Merapi 1994, lava meluncur ke lereng Merapi diperkirakan berkecepatan sekitar 300 Km/jam. Hanya dalam waktu dua menit, lava itu sudah sampai di Kali Boyong, Kaliurang, Yogya. Kesaksian ini ditulis oleh Purwoko 'Iphoeng' Haryadi dalam e-mailnya kepada redaksi detikcom, Kamis (27/4/2006). Purwoko tidak menjelaskan alasannya menyebut kecepatan aliran lava secepat para pembalap F1 memacu mobilnya di sirkuit balap itu. Tentu, dia tidak pernah mengukurnya. Namun, yang pasti, bagi dia, aliran lava itu begitu cepatnya, sehingga dalam waktu tidak lama, lava itu mengalir ke Kali Boyong. Saat letusan Merapi 1994, Purwoko sedang kuliah di kampus Fakultas Ekonomi UGM. Begitu letusan Merapi terdengar, asap hitam langsung menyelimuti gunung Merapi. "Saya bisa melihat jelas Merapi, meski sedikit terhalang oleh bangunan," kata Purwoko. Tidak lama setelah Merapi meletus, Purwoko bergegas pulang ke rumahnya di Kalijeruk, Widodomartani, Ngemplak, Sleman. Jarak rumahnya dengan puncak Merapi sekitar 13,5 km. Nah, saat pulang, Purwoko melihat Jl. Kaliurang sudah dipenuhi kendaraan yang turun dari arah Kaliurang, terutama di sekitar Pakem (km 17). Rumah Sakit swasta di Pakem juga telah dipenuhi banyak orang. Evakuasi warga dengan truk dan kendaraan umum juga tampak ramai. "Sekitar 70 orang dilarikan ke kampung saya untuk dievakuasi," kata Purwoko, yang saat ini masih tinggal di Kalijeruk ini. Saat letusan terjadi,lava dari Puncak Merapi muncul dari sisi selatan dan meluncur menuju lereng. "Dalam tempo kurang dari 2 menit, lava telah sampai di jurang Kali Boyong, sebelah barat Kaliurang yang berjarak 5,5 km," kisah pria yang kini menjadi staf Pemda Sleman ini.Kisah yang hampir sama juga diceritakan Handono. Menurut dia, saat letusan Merapi tahun 1994, dirinya bersama tiga orang kawannya sedang asyik berbincang di lantai 2 kampus Universitas Sanata Dharma. Kampus Sanata Dharma berjarak sekitar 20 km dari puncak Merapi. "Suara letusan begitu menggelegar. Dari ruang di lantai dua kami melihat langsung kondisi Merapi saat itu. Begitu menyeramkan, bahkan menakutkan," kisah Handono. Kalau tidak salah ingat, menurut Handono, dirinya mendengar letusan Merapi sekitar pukul 11.00 WIB. "Awan gelap pekat dan pijaran api (wedhus gembel) tampak bergerak cepat ke arah selatan dari puncak Merapi, kemudian menurun menuju Turgo dan Kaliurang," ungkap dia. Namun kemudian, tak lama kemudian, gumpalan tersebut bergerak ke arah timur, lalu ke arah timur laut. Berbeloknya gumpalan material Merapi itu berbelok arah kemungkinan karena angin besar. Bila gumpalan tidak berbelok dan menuju Kaliurang, tentu akan jatuh korban lebih banyak lagi. "Tentu ini semua kuasa Tuhan. Semoga Merapi tidak meletus lagi," harap dia.Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads