Korban Predator Seks Diimingi 'Diamond' Free Fire untuk Kirim Video Porno

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 16:28 WIB
Jakarta -

Bareskrim Polri menangkap tersangka pelaku kejahatan seksual anak melalui game online Free Fire, S (21), di Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Pelaku mengiming-imingi korban yang masih anak-anak dengan memberi 'Diamond' seharga Rp 100 ribu.

"Tersangka mengiming-imingi atau merayu akan memberikan Diamond (alat tukar premium yang berfungsi mengoptimalkan tampilan dan performa pemain yang bisa digunakan untuk membeli karakter, memperkuat senjata, dan mendapatkan item eksklusif, red) kepada korban," ujar Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Kombes Reinhard Hutagaol dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/11/2021).

"Jika korban mau, diberi Diamond sebanyak 500-600, seharga Rp 100 ribu," sambungnya.

Adapun S meminta nomor WhatsApp (WA) korban saat sedang bermain game Free Fire. Melalui WA, pelaku meminta korban mengirimkan foto dan videonya sambil telanjang.

Selain itu, pelaku mengajak korban melakukan video call sex (VCS). Apabila menolak, akun Free Fire korban akan dihapus pelaku.

"Korban sempat menolak. Namun tersangka mengancam akan menghilangkan akun game korban sehingga korban menuruti kemauan tersangka. Pelaku menghilangkan akun game korban sehingga korban menuruti kemauan tersangka," tutur Reinhard.

Dengan demikian, kata Reinhard, korban yang masih berusia 9 tahun ini terpaksa mengirim video porno dirinya kepada pelaku. Kasus ini pun akhirnya terbongkar usai orang tua korban menemukan video porno di HP D.

Sebelumnya, Dittipidsiber Bareskrim Polri membongkar kasus dugaan pelecehan seksual anak melalui game online bernama Free Fire (FF). Pelaku pelecehan seksual anak berinisial S (21) ditangkap polisi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

"Pada hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2021 di Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kaltim, sekitar jam 19.40 Wita, penyidik berhasil menangkap tersangka S," ujar Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Kombes Reinhard Hutagaol dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/11).

Reinhard mengungkapkan kasus ini bermula dari aduan mengenai konten negatif yang dilayangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Bareskrim menindaklanjuti aduan itu dengan membuat laporan polisi (LP) pada 22 September 2021.

Aduan KPAI yang dimaksud merupakan keluhan dari masyarakat, di mana pada Agustus 2021, ada orang tua yang mengecek HP anaknya, D (9). Namun, D tidak memberi izin orang tuanya untuk mengecek HP-nya.

Orang tua D pun curiga. Kemudian, HP D dicek dan orang tuanya menemukan video porno. Mereka juga mengecek percakapan WhatsApp dan kolom sampah di galeri HP D. Lalu ditemukan video porno yang dihapus.

"Setelah ditanya kepada si anak, D mengaku video tersebut dikirim oleh teman main game-nya bernama Reza," ucap Reinhard.

(drg/mae)