Pensiunan PNS Bersyukur Biaya RS Penyakit Jantung Ditanggung BPJS

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 16:15 WIB
BPJS Kesehatan
Foto: dok. BPJS Kesehatan
Jakarta -

Setelah menjalani operasi pemasangan ring jantung, Muhammad NL BA (66) harus rutin kontrol kondisi kesehatannya ke rumah sakit. Namun ia terbantu dengan adanya program JKN-KIS karena tak harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan dan pengecekan kesehatannya.

"Kalau ke rumah sakit memang sudah rutin karena memang ada beberapa penyakit yang saya derita, jadi memang wajib untuk periksa dan ambil obat," kata Muhammad dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (30/11/2021).

Pria yang berasal dari Gampong Kuala Trang, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, ini mengatakan sebagai peserta JKN-KIS, ia dapat memperoleh rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempatnya terdaftar untuk dirujuk ke rumah sakit dengan mudah secara online.

"Sekarang untuk ambil rujukan dari Puskesmas itu sangat mudah karena sudah online apalagi untuk pasien rutin seperti saya yang datanya sudah ada di aplikasi. Jadi datang ke rumah sakit tanpa perlu bawa berkas-berkas lagi karena sudah online sejak awal terdaftar jadi peserta JKN-KIS. Saya sudah pernah pakai untuk ambil kacamata, operasi pasang ring jantung dan banyak lainnya, bisa dikatakan saya rutin sebulan sekali harus ke poli saraf dan dua minggu sekali ke poli jantung," tutur pensiunan PNS tersebut.

Muhammad pun menyarankan masyarakat yang belum terdaftar ke dalam Program JKN-KIS untuk segera mendaftar, karena menurutnya banyak manfaat yang akan diperoleh oleh peserta Program JKN-KIS.

"Selain untuk jaminan kesehatan ketika sakit, kartu ini (JKN-KIS) juga bisa menjadi pegangan untuk berjaga-jaga ketika sehat, karena kita tidak tahu kapan penyakit itu kambuh," lanjut Muhammad.

Selain itu, Muhammad juga berharap pelaksanaan Program JKN-KIS ini terus disempurnakan dan, terutama untuk penyediaan obat bagi penderita penyakit kronis.

"Untuk pelaksanaannya sudah bagus semua, mulai dari pelayanan, rujukan dan lainnya. Tapi menurut saya bagian penyediaan obat rutin yang harus dimaksimalkan lagi karena beberapa kali masih adanya stok obat kosong ketika saya datang untuk berobat. Padahal bagi saya obat itu sudah jadi hal yang wajib untuk dikonsumsi," urai Muhammad.

(prf/ega)