UPN Veteran Jakarta Bentuk Komdis Usut Mahasiswi Tewas Saat Acara Menwa

Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 15:31 WIB
Ujian tes berbasis komputer (UTBK) untuk masuk universitas digelar di UPN Veteran Jakarta. Tes tersebut digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.
Foto Ilustrasi UPN Veteran Jakarta (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Erna Hernawati mengatakan pihaknya telah membentuk Tim Komisi Disiplin (Komdis) untuk menangani kasus mahasiswa tewas saat kegiatan pembaretan Resimen Mahasiswa (Menwa) UPNVJ. Korban merupakan mahasiswi D3 Fisioterapi angkatan 2020, Fauziyah Nabilah.

"Insiden ini sudah ditangani dari awal kejadian oleh tim Wakil Rektor Bidang III dengan berkomunikasi langsung dengan keluarga," ujar Erna kepada wartawan, Selasa (30/11/2021).

Erna mengatakan Tim Komdis telah menerbitkan surat keputusan (SK) bahwa kegiatan pembaretan yang diselenggarakan oleh Menwa tak berizin. "Kemudian diterbitkan SK Tim Komisi Disiplin, terkait pelanggaran pengurus yang melaksanakan kegiatan tanpa izin dari Wakil Rektor Bidang III," katanya.

Saat ini, kata Erna, Tim Komdis masih bergerak mengusut kasus yang melibatkan mahasiswa tersebut. Menurut dia, pihaknya kini mengumpulkan data dan keterangan serta merekomendasikan sanksi usai kasus itu didalami.

"Segera setelah selesai mereka akan merekomendasikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku," ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, Fauziyah Nabilah meninggal dunia saat mengikuti kegiatan pembaretan Menwa UPNVJ, Sabtu (25/9) lalu. Korban meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit.

"Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang tergabung dalam Menwa Jayakarta. Almarhum meninggal saat perjalanan menuju RSUD Ciawi," ujar negosiator Aliansi UPNVJ Bergerak, Ivanno Julius, kepada wartawan, hari ini.

Insiden itu menjadi perhatian mahasiswa UPNVJ. Aliansi UPNVJ Bergerak menyayangkan UKM Menwa yang dianggap tak profesional menyikapi kondisi Fauziyah Nabilah saat kegiatan.

"Aliansi menyoroti beberapa hal terkait meninggalnya Lala (sapaan akrab korban), seperti tak dilengkapinya tenaga medis profesional di mobil ambulans. Diagnosis Menwa tak masuk di akal yang menyatakan almarhum kesurupan, hingga tak adanya screening sebelum melakukan kegiatan," ujar Befinka Figiel selaku koordinator lapangan aksi Aliansi UPNVJ Bergerak, dalam keterangan tertulis.

Befinka mengatakan bahwa pihaknya menuntut kampus dan UKM Menwa segera bersikap transparan atas kasus ini.

"Pihak aliansi menuntut kepada kampus dan Menwa untuk memberikan klarifikasi dan kronologi melalui audiensi terbuka. Selain menuntut adanya klarifikasi terbuka, aliansi juga menuntut sanksi kelembagaan terhadap Menwa,"pungkas dia.

Lihat juga Video: Diksar Maut di Parepare, 2 Mahasiswi Tewas Terseret Arus Sungai

[Gambas:Video 20detik]



(aud/aud)