Nuansa Magis di Balik Ukiran Eksotis Suku Kamoro Papua

Mustiana Lestari - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 11:59 WIB
Ukiran Suku Kamoro Papua
Foto: Grandyos Zafna
Timika -

Suku Kamoro di Papua memang tak sepopuler Suku Asmat. Namun siapa sangka, suku yang banyak mendiami pesisir sungai ini amat andal mengukir.

Bahkan keandalan Suku Kamoro dalam mengukir menjadi perhatian seorang ahli sejarah dan antropologi kelahiran Hungaria berkebangsaan Amerika Serikat, bernama Kal Muller. Muller bahkan pernah menggelar pameran khusus bertajuk Kamoro Kakuru (Festival Kamoro).

"Suku Kamoro hidup di pesisir kami memiliki 3 S. S pertama Sagu,S kedua sampan atau perahu , dan S ketiga, sungai. Kebiasaan kami hidup berpindah-pindah dan sampai saat ini juga leluhur kami adalah seorang seniman ukir, jadi ada turun temurun," kata Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Herman Kripi, kepada detikcom di Timika, Papua, beberapa waktu lalu.

Ukiran Suku Kamoro PapuaUkiran Suku Kamoro Papua Foto: Grandyos Zafna

Adapun bahan baku kerajinan ukiran ini didapat dari pepohonan bakau dekat mereka tinggal. Herman mengibaratkan hutan bakau sebagai supermarket, tempat, masyarakat bisa memilih pohon untuk diukir. Namun jika air pasang, 'supermarket' milik masyarakat Kamoro ini pun 'tutup'.

"Biasanya untuk ukuran kecil bisa selesai satu hari jika tidak ada kegiatan di luar. Makna-makna ukiran ini juga ada jari-jari, sungai-sungai, insang ikan, awan putih jadi kami orang Kamoro memang hidup dengan alam," jelas dia.

Selain itu ada simbol lain, seperti buaya, ikan, dan lainnya. Simbol tersebut adalah representasi nenek moyang Suku Kamoro.

"Jadi saat mereka pulang mencari ikan, mereka akan ingat dan tahu orang tua kami di sini kami," tandasnya.

Lebih lanjut, simbol ini pun tak bisa diukir sembarang orang. Suku Kamoro percaya ada bala yang akan datang jika sembarang orang mengukir simbol nenek moyang mereka.

"Seperti saya nenek moyang saya buaya jadi saya berhak mengukir buaya dan tidak boleh ikan atau ukiran lain. Jadi kalau ada yang mau membuat ukiran buaya, bisa kalau saya izinkan. Tapi kalau dia curi bisa jadi pantangan dan bisa meninggal," lanjut dia.

Kendati begitu estetik dan original, nyatanya kebiasaan mengukir ini kian ditinggalkan oleh anak-anak muda Suku Kamoro, utamanya yang sudah berpindah ke kota. Hanya para orang tua yang setia tetap memahat ukiran sarat makna ini.

Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Herman Kripi,Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Herman Kripi, Foto: Mustiana Lestari

Oleh karena itu, Herman bersama orang Kamoro lainnya mencoba mempertahankan tradisi ini dengan mendirikan yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe yang artinya pengukir muda Kamoro. Di yayasan ini, anak-anak muda bisa belajar cara mengukir sekaligus menari untuk mempertahankan kearifan lokal Suku Kamoro.

Dengan dukungan dari PT Freeport Indonesia, yayasan ini juga dapat memasarkan dan memamerkan hasil kerajinan Suku Kamoro hingga ke kota-kota besar lainnya. Bahkan terkadang ekspatriat perusahaan tambang ini juga ikut memborong ukiran Suku Kamoro.

"Adanya PT Freeport Indonesia kami bisa berkembang sampai sekarang ini, kami juluki PT Freeport sebagai bapak angkat orang Kamoro," tutupnya.

Sejak tahun 2019, Freeport bekerja sama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe. Yayasan ini bergerak dalam bidang promosi budaya Kamoro. Yayasan tersebut mendampingi sekitar 300 perajin yang menghasilkan produk seni yang berkualitas dan memasarkannya melalui pameran dan galeri.

Selain untuk promosi budaya, produk-produk seni tersebut juga memberi pemasukan tambahan bagi masyarakat karena hasil dari penjualan sepenuhnya dikembalikan kepada para perajin. Pada tahun 2019, Yayasan bersama para perajin, penganyam, dan penari Suku Kamoro juga melakukan promosi budaya di beberapa sekolah, perguruan tinggi dan institusi lain di Kota Timika dan luar Papua.

Yayasan juga menginisiasi pembuatan film Maramowe yang bercerita mengenai budaya Kamoro. Film ini nantinya akan menjadi salah satu media untuk memperkenalkan budaya Papua bagi generasi muda Suku Kamoro maupun masyarakat pada umumnya.

Tim detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

(mul/akn)