Kenangan Letusan Merapi
Awan Panas Bergulung-gulung!
Kamis, 27 Apr 2006 07:31 WIB
Magelang - Bagi warga di lereng Merapi yang berumur di atas 50 tahun, letusan Gunung Merapi pada tahun 1961 sulit untuk dilupakan. Letusan Merapi saat itu sangat besar dan terjadi berkali-kali dalam satu hari.Rubiyo, 57 tahun warga Desa Tegalrandu, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu orang tua yang masih ingat betul musibah akbar itu. "Saat Merapi meletus tahun 1961, saya masih SD kelas V, baru berumur 12 tahun," kata Rubiyo (66) kepada detikcom, Kamis (27/4/2006).Menurut Rubiyo, saat itu dia masih tinggal bersama orangtua dan saudara-saudaranya di Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun. Kala itu, Merapi meletus pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, di awal bulan Mei tahun 1961. Sebelum meletus, Gunung Merapi memang sudah memunculkan tanda-tanda, seperti sering terdengarnya suara gemuruh yang sangat keras. "Saya lupa hari dan pasarannya apa. Tapi pagi itu langit sekitar desa Keningar tampak gelap dan dari atas tampak wedhus gembel (awan panas) bergulung-gulung ke arah Kali Sat dan Kali Putih," kata Mbah Rubiyo yang ingatannya masih tokcer ini. Begitu mengetahui Merapi meletus, warga dusun langsung lari menyelamatkan diri. Rubiyo bersama keduaorangtua dan saudaranya juga tak ketinggalan. Mereka lari mengungsi menuju Ke arah Desa Dukun. "Saat itu, di jalanan desa juga sudah banyak orang yang berjalan kaki untuk segera mengungsi," kenang dia. Menurut dia, yang memerintahkan untuk segera mengungsi adalah Bapak Amat Modin atau rois desa setempat. Sambil menangis ketakutan, dia berlari-lari memberitahukan tetangga dan warga agar mengungsi sambil berteriak takbir berkali-kali. Allahu akbar, Allahu akbar!"Yang kami bawa hanya beberapa lembar pakaian dan tikar pandan. Tujuannya ke rumah paman di DesaNgadipuro sebelah selatan sekitar 2 kilometer dari Desa Dukun," katanya.Namun ketika sampai di Ngadipuro, keluarga pamannya juga sudah mengungsi. Akhirnya bersama keluarganya langsung melanjutkan mengungsi menuju kantor Kecamatan Muntilan. Para pengungsi sebagian besar berjalan kaki. Hanya orang kaya saja yang naik kuda atau dokar (andong). "Sampai di Kemantren (kantor kecamata) Muntilan sudah banyak pengungsi berdatangan. Kami akhirnya ditampung di gedung dekat Sekolah PL Van Lith," ujar dia. Selama lebih kurang satu minggu tinggal di tempat pengungsian, dirinya baru bisa bertemu pamannya di barak yang terletak tidak jauh dari kantor kecamatan Muntilan. Setelah dirasa aman, pamannya kemudian mengajak pulang untuk tinggal sementara waktu di Desa Ngadipuro.Tidak berapa lama setelah Merapi meletus, siang hingga malam sekitar Muntilan gelap, karena hujan abu yang tebal sekali. Wajah, rambut dan baju terkena debu Merapi. Genting, rumput dan daun-daunan tampak berwarna putih keabu-abuan cukup tebal. "Cari air untuk minum saja susah, karena semuanya kotor," kata Rubiyo. Akibat letusan itu, kata dia, setelah tahun 1962, beberapa dusun yang ada di sekitar Keningar atas saran Pak Penewu (Pak Camat) untuk dikosongkan. Bahkan, beberapa warga sekitar Keningar, Sumber, Ngargomulyo dan Srumbung ditransmigrasikan ke Sumatera. "Banyak hewan ternak yang mati. Kalau warga ada, tapi tidak tahu jumlahnya. Rumah kami juga rusak," kata Rubiyo yang kemudian pada tahun 1970 menikah dengan warga Tegalrandu Kecamatan Srumbung itu. Bagi Rubiyo, letusan tahun 1961 mempunyai kenangan tersendiri, meski letusan tahun 1994 dan 2001 lalu juga sempat menimbulkan ketakutan. "Kalau letusan tahun 1994 itu juga besar karena di sekitar Srumbung hujan abu sangat tebal dan gelap pada pukul 11.00 siang," katanya.Dusun Sisir dan Terus yang berada di sebelah atas Dusun Keningar lama juga ditinggalkan warga dan sampai sekarang tidak ada yang berani menempati lagi. Saat ini bekas dusun itu menjadi kawasan hutan pinus dan terdapat kuburan tua akibat letusan Merapi tahun 1961. Sebagian Warga pindah ke dusun di bawahnya, yakni di sekitar Desa Kalibening dan Desa Sumber. Sementara itu berdasarkan penelusuran detikcom di Desa Keningar, saat ini tinggal dua dusun dan satu pedukuhan saja yang ditempati sekitar 461 jiwa. Dua dusun itu adalah Dusun Banaran dan Gondangrejo. Sedang pedukuhan yang tersisa adalah Dukuh Keningar yang paling dekat dengan Merapi yang saat ini ditempati sekitar 12 kepala keluarga (KK).Meski Desa Keningar termasuk wilayah rawan bencana, tanah daerah itu merupakan tanah yang subur. Sebagian besar warga hidup dari bertani menanam berbagai macam sayuran seperti cabe, kol dan buncis dan ada pula yang beternak sapi dan kambing. Namun adapula warga yang hidup mencari pasir di sekitar aliran Sungai Gemer. Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com.
(asy/)











































