Di Mojokerto, Dewan Pers Sosialisasikan Kiat-kiat Hadapi Awak Media

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 20:23 WIB
Pemkot Mojokerto
Foto: Dok. Pemkot Mojokerto
Jakarta -

Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mojokerto menggelar sosialisasi 'Kiat-kiat Menghadapi Pers, Rabu (24/11). Plt. Kepala Diskominfo Kota Mojokerto, Moch. Imron selaku penyelenggara menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergitas seluruh pihak mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga kepala sekolah terhadap media.

"Pemerintah Kota Mojokerto perlu meningkatkan sinergitas dengan media dengan prinsip dampak positif di masyarakat. Melalui sosialisasi ini semua OPD, camat dan lurah serta kepala sekolah memahami tentang UU Pers," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/11/2021).

Pada sosialisasi ini, Diskominfo Kota Mojokerto menghadirkan Ketua Hubungan Antar lembaga dan Internasional Dewan Pers, Agus Sudibyo sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Agus mengatakan perusahaan/instansi selaku badan publik sebaiknya tidak perlu minder dan arogan saat menghadapi media/pers. Sebagai sumber berita, perusahaan/instansi dapat memberikan hak jawab jika ada berita negatif atau menyimpang tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Menurut Agus, selama tidak melakukan kesalahan, maka tidak perlu takut saat melakukan wawancara dengan wartawan.

"Jangan minder, tapi juga jangan arogan, gunakan hak jawab jika ada berita negatif tanpa konfirmasi," jelasnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan perusahaan/instansi juga dapat melaporkan terhadap yang berwenang jika merasa terancam oleh wartawan. Namun, adanya berita negatif bisa menandakan perusahaan/instansi memang memiliki kesalahan. Mengingat fungsi media juga melakukan pengawasan sebagai fungsi kontrol untuk kepentingan publik.

"Wartawan bukanlah seorang yang kebal hukum, jika merasa terancam atau merasa tidak nyaman laporkan kepada Dewan Pers atau asosiasi wartawan terdekat seperti PWI, AJI, PRSSNI dan yang nama lainnya" lanjut Agus.

Terkait hal ini, Agus pun memaparkan tentang kiat-kiat menghadapi wartawan di antaranya tidak perlu takut, pahami hak kewajiban media dan teknik wawancara, tidak menunda hak jawab, pahami kelembagaan dan hindari kekerasan terhadap wartawan.

Selain itu, Agus juga mengimbau agar perusahaan/instansi berhati-hati dengan kontroversi negatif dan positif. Diperlukan juga identifikasi wartawan guna menghindari wartawan yang tidak profesional.

Dalam kode etik jurnalistik, ujar Agus, seorang media harus memperhatikan kenetralan, liputan dua sisi, kewajiban verifikasi, akurasi, asas praduga tak bersalah, pemisahan fakta dan opini, dan relevansi bagi kepentingan publik. Seorang jurnalis juga tidak boleh memaksa, memeras, menghina narasumber, melanggar privasi, dan harus menunjukkan identitas diri.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum, Subambihanto yang hadir mewakili Wali Kota Mojokerto menyampaikan, setiap pejabat yang akan menghadapi pers perlu berpedoman kepada undang-undang pers yang berlaku.

"Kita bisa memberikan jawaban yang baik dan tidak menimbulkan masalah hukum di kemudian hari akibat ketidaktahuan kita terhadap aturan atau undang-undang pers yang berlaku," katanya.

Di sisi lain, Kepala Sekolah SDN Jagalan, Nurul mengaku senang mengikuti acara sosialisasi ini. Melalui sosialisasi ini, ia dapat memperoleh informasi terkait cara menghadapi pers.

"Karena selama ini belum pernah mengetahui bagaimana kiat-kiat menghadapi awak media yang datang untuk konfirmasi yang kemungkinan cenderung negatif," ungkapnya.

Sebagai informasi, sosialisasi yang dihelat oleh Diskominfo Kota Mojokerto ini diikuti oleh Kepala OPD, Camat dan Lurah serta Kepala Sekolah se-Kota Mojokerto bertempat di Gedung Sabha Mandala Madya.

(akn/ega)