Ditanya Vaksin Booster, Dinkes DKI Ungkap Hasil Survei Serologi COVID-19

ADVERTISEMENT

Ditanya Vaksin Booster, Dinkes DKI Ungkap Hasil Survei Serologi COVID-19

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 13:40 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta Widyastuti
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti (Karin/detikcom)
Jakarta -

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengungkap hasil survei serologi yang dirilis pada Maret 2021 bahwa sebanyak 44 persen warga Ibu Kota imunitasnya telah terbentuk. Imunitas terbentuk karena mayoritas warga Jakarta pernah terpapar virus Corona.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti saat tanya-jawab bersama wartawan, Jumat (26/11/2021). Widyastuti awalnya ditanya soal booster vaksin COVID-19 untuk warga di Jakarta.

"Sementara ini booster belum menjadi pilihan atau choice untuk di Indonesia, termasuk di Jakarta," ujar Widyastuti.

Widyastuti kemudian membeberkan hasil survei serologi yang dirilis pada Maret 2021. Periode pengambilan data adalah Desember 2020 hingga Januari 2021.

"Data diambil dari Desember sampai Januari, terus kemudian diolah dan baru dikeluarkan di bulan Maret 2021, yaitu bahwa 44 persen warga DKI sudah terbentuk imunitas. Padahal waktu itu (pas ambil data) belum divaksin. Artinya memang secara alamiah, warga DKI Jakarta sudah terbentuk kekebalan secara alami karena terinfeksi," kata Widyastuti kepada wartawan, Jumat (26/11/2021).

Bahkan Widyastuti juga meyakini angka kekebalan kelompok saat ini semakin besar dengan adanya program vaksinasi COVID-19. Sebagai informasi, capaian vaksinasi di Jakarta untuk dosis pertama sebesar 11.079.640 dengan proporsi 67 persen warga KTP DKI Jakarta dan 33 persen warga non-DKI. Sedangkan untuk dosis kedua 8.944.272 dengan proporsi 70 persen warga KTP DKI dan 30 persen non-DKI.

"Sekarang mendapatkan vaksin lagi dengan cakupan yang bagus sehingga warga DKI relatif sudah banyak yang mendapatkan dua, kekebalan alami melalui terinfeksi plus mendapatkan dari vaksinasi," jelasnya.

Dia berharap terbentuknya kekebalan kelompok dapat mengurangi risiko warga terpapar virus Corona. Sebab, Widyastuti menyebut sebagian besar warga yang meninggal dunia karena belum mendapatkan suntikan vaksin COVID-19.

"Ternyata yang meninggal itu karena pertama tidak ada riwayat vaksinasi, kedua karena ada komorbid dan vaksinasi baru dosis 1. Sehingga ini jadi pesan bahwa belum semua terlindungi 100 persen," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengklaim situasi Corona atau COVID-19 di Jakarta sudah terkendali. Anies menyebut sudah ada kekebalan kolektif di Jakarta.

"Situasi di Jakarta secara umum terkendali, kenapa? Karena masyarakat yang terekspos dengan virus SARS-CoV 2, persentase sudah tinggi. Kedua, sudah mengalami vaksinasi dengan angka vaksinasi yang persentasenya tinggi," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2021).

"Jadi secara kolektif sudah ada kekebalan di masyarakat di Jakarta," sambungnya.

Anies juga menyoroti penerapan protokol kesehatan COVID-19 di tengah masyarakat yang makin longgar. Dia menyebut screening dengan aplikasi PeduliLindungi kini mulai diabaikan.

"Ada orang masuk harus scan, kalau ada orang keluar harus scan, sehingga masyarakat merasa aman datang ke sebuah tempat karena tahu pengunjung semua sudah terdeteksi menggunakan sistem PeduliLindungi yang ada," ujarnya.

Dia meminta semua pihak mematuhi penerapan aturan terkait pencegahan penyebaran COVID-19. Dia berharap situasi Corona di Jakarta terus terkendali.

(taa/knv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT