Kubu Moeldoko ke Panglima Andika soal Klaim AHY: Sejak Kapan TNI Urus Oposisi?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 18:10 WIB
Juru bicara kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad.
Muhammad Rahmad (screenshot video)
Jakarta -

Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengaku mendapat peringatan dari para seniornya di TNI terkait Moeldoko. Kubu Moeldoko meminta sosok senior TNI yang beri peringatan kepada AHY diungkap ke publik.

"AHY juga mengklaim bahwa dia telah diberi peringatan oleh senior-seniornya di TNI. Bahkan AHY menyebut bahwa senior dia di TNI itu mengingatkan terhadap upaya membeli hukum. Sepertinya AHY ingin menyampaikan kepada publik bahwa sampai saat ini, senior-seniornya di TNI masih rajin memberikan masukan-masukan kepada AHY," kata jubir kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad, kepada wartawan, Kamis (25/11/2021).

Kubu Moeldoko bertanya-tanya siapa senior TNI yang memberi peringatan kepada AHY soal Moeldoko. Pernyataan AHY itu membuat kubu Moeldoko keheranan karena membawa-bawa nama TNI.

"Pertanyaan kami adalah siapa petinggi TNI yang rajin memberi masukan ke AHY bahwa hukum itu bisa dibeli. Sejak kapan TNI mencampuri urusan partai politik Demokrat yang standing politiknya saat ini adalah oposisi pemerintah?" ujarnya.

Kubu Moeldoko ingin minta konfirmasi kepada Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Pertanyaan utama kubu Moeldoko adalah siapa petinggi TNI yang rajin memberi masukan kepada AHY.

"Panglima TNI tentu harus menjelaskan kepada publik dan mengungkapkan fakta-fakta apakah yang disebut AHY itu benar. Jika benar, tolong dijelaskan, apa motif petinggi TNI yang rajin memberi masukan kepada AHY, ketua umum partai oposisi pemerintah itu?" ucap Rahmad.

Hal tersebut, menurut Rahmad, penting dan perlu diketahui publik. Sebab, AHY telah menyampaikannya secara terbuka kepada publik. Di sisi lain juga penting agar nama baik TNI dibawa-bawa secara bebas.

"Apakah ini hanya karena arogansi oknum personal yang sudah mundur dari TNI, karena haus kekuasaan untuk merebut kursi Gubernur DKI Jakarta? Atau karena apa? Jangan sampai isu keterlibatan petinggi TNI di politik praktis Partai Demokrat, yang menjadi oposisi pemerintah ini, sampai membahayakan keamanan dan masa depan kita bernegara," imbau Rahmad.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: