Seragam Putih pun Jadi Hitam

Kenangan Letusan Merapi

Seragam Putih pun Jadi Hitam

- detikNews
Rabu, 26 Apr 2006 12:26 WIB
Jakarta - Tahun 1994. Dari jarak 20 KM, letusan Gunung Merapi masih terdengar cukup keras. Ledakannya seperti ledakan trafo gardu listrik. Siswi-siswi di SMA Negeri Muntilan ketakutan. Tak berapa lama setelah letusan, saat para siswa keluar dari ruang sekolah, baju seragam putih pun menjadi hitam. Kenangan letusan Merapi tahun 1994 ini dialami oleh Arjuna Adi Brata dalam e-mailnya kepada redaksi detikcom, Rabu (26/4/2006). Saat itu, Arjuna sedang duduk di kelas 3 SMA Negeri Muntilan, Magelang. Jarak SMAN Muntilan dari puncak Merapi sekitar 20 KM. Pagi hari menjelang Merapi meletus, para siswa masuk kelas dan bersiap untuk mengikuti pelajaran jam pertama. Namun, tiba-tiba terdengar suara keras, bummm!! "Suaranya seperti trafo yang meledak," kisah Arjuna. Saat itu, Arjuna dan teman-temannya awalnya tidak mengira bahwa suara letusan itu berasal dari Merapi. Mereka mengira letusan itu memang suara trafo dari sebuah gardu listrik. Tapi, yang mengejutkan, tiba-tiba langit menjadi gelap dan semakin gelap. "Mendung kami pikir, tapi makin lama kok semakin gelap. Lampu-lampu kelas dinyalakan, kegiatan belajar mengajar pun dihentikan," kata Arjuna.Saat itu jam menunjukkan pukul 9 lewat sedikit. Suasana di luar kelas gelap gulita, menakutkan. "Teman-teman pelajar putri banyak yang menangis, terutama yang rumahnya di daerah Sawangan, Srumbung atau Dukun," kata Arjuna yang kini bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi (TI) di Jakarta ini. Setelah itu, informasi dari mulut ke mulut tentang meletusnya Merapi berseliweran. Para siswa dilarang meninggalkan kelas oleh guru. Sekitar pukul 10.00 WIB, hujan abu datang. "Kami melihat dari jendela, abu begitu banyak beterbangan," kenang Arjuna. Pukul 11.0 WIB, Arjuna dan sejumlah siswa memberanikan diri ke luar kelas. "Baru sebentar di luar, baju putih saya segera jadi hitam, karena abu," kata Arjuna. Jalan-jalan susah dilalui karena tingginya tumpukan abu. "Teman-teman saling menertawakan keadaan dirinya, yang lebih tampak menyerupai monyet ketimbang manusia. Ini gara-gara terkena abu," ujar Arjuna. Setelah hujan abu mulai berkurang, Arjuna pun pulang naik angkutan umum hingga ke Blabak, Mungkid, yang berjarak sekitar 5 KM dari Muntilan. Di sana, tumpukan abu lebih tebal. Orang-orang pun bersalawat bersama-sama. Pukul 13.00 WIB, Arjuna baru mengetahui kepastian meletusnya Merapi dari televisi. Dari berita TV itu, Arjuna mengetahui letusan Merapi begitu dahsyat dan wedhus gembel menyambar orang-orang di dekat Kaliurang, Yogyakarta. "Terlihat di TV, mayat-mayat yang hangus, mengerikan," ujar Arjuna yang berharap Merapi tidak meletus lagi. Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads