Fraksi PD: Kurang Kerjaan Permasalahkan Pangkostrad Baru

Fraksi PD: Kurang Kerjaan Permasalahkan Pangkostrad Baru

- detikNews
Rabu, 26 Apr 2006 11:48 WIB
Jakarta - Mayjen TNI Erwin Sujono, yang tidak lain adalah ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diangkat sebagai Panglima Kostrad yang baru. Pengangkatan ini dipermasalahkan sejumlah pihak, karena ada indikasi nepotisme. Tapi, menurut Fraksi Partai Demokrat (FPD), mempermasalahkan pengangkatan Erwin hanyalah tindakan mengada-ada.Menurut Sekretaris FPD Sutan Bhatoegana, pengangkatan Erwin sebagai Pangkostrad merupakan hal yang wajar. "Dalam sesuatu apa pun, mesti ada orang pro dan kontra. Apalagi menyangkut jabatan, pasti orang mencari-cari celah, oh ini ipar SBY. Begini, begitu. Tapi, sebenarnya ini adalah wajar-wajar saja," cetus Sutan kepada detikcom di Jakarta, Rabu (26/4/2006).Pengangkatan Pangkostrad, kata Erwin, merupakan domain TNI Angkatan Darat (AD) dan Mabes TNI. KSAD sudah menjelaskan, pengangkatan Erwin didasarkan profesionalitas."Jadi, orang berprestasi dan mendapat promosi jabatan, kan wajar. Kalau ada orang mengatakan ini KKN, ya kita hormati. Tapi, jangan apriori. Bangsa ini tidak akan besar kalau di antara kita saling berburuk sangka," jelas anggota Dewan Pakar DPP Partai Demokrat ini.Lantas apa prestasi Erwin? Menurut Sutan, Mabes TNI tentu memiliki catatan-catatan tentang prestasi dan kegagalan prajuritnya. "Tapi, prestasi itu juga bisa dilihat bahwa Pak Erwin tidak pernah memiliki cacat saat menjalankan tugas yang diembannya," ujar dia.Anggapan orang bahwa Erwin baru setahun menjadi Pangdam VI/Tanjungpura, sehingga pengangkatannya sebagai Pangkostrad layak dicurigai, Sutan tidak setuju. "Di Pertamina saja, ada orang baru dua minggu menjabat deputi pemasaran, langsung diangkat sebagai direktur pemasaran. Kan nggak aneh itu," tutur dia.Saat ditanya mengenai usulan agar DPR memanggil Panglima TNI dan KSAD terkait pengangkatan Erwin itu, Sutan mengaku sebagai kurang kerjaan saja. "Kalau sampai memanggil karena jabatan ini, kurang kerjaan itu namanya. Kita masih banyak pekerjaan lain untuk menyejahterakan rakyat, apalagi saat ini harga minyak dunia melonjak," kata dia. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait