Jaksa Agung Minta Tak Tumpul ke Bawah, Ini Daftar Restorative Justice Jaksa

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 13:59 WIB
Jaksa Agung ST Burhanuddin
Jaksa Agung ST Burhanuddin (Foto: dok. tangkapan layar)
Jakarta -

Jaksa Agung ST Burhanuddin tengah berupaya mementahkan adagium 'hukum itu tajam ke bawah tapi tumpul ke atas'. Salah satu yang tengah digalakkan adalah tentang keadilan restoratif atau restorative justice.

Beberapa waktu lalu Burhanuddin memantau penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif saat melakukan kunjungan kerja di Deli Serdang, Sumatera Utara. Adapun kasus yang dilakukan penghentian penuntutan adalah penganiayaan pedagang kikil.

"Jaksa Agung Republik Indonesia Burhanuddin didampingi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Dr Fadil Zumhana pada saat melakukan kunjungan kerja di Kejaksaan Kejaksaan Negeri Deli Serdang menyaksikan pemberian surat keputusan penghentian penuntutan (SKP2) atas penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif dari Kepala Kejaksaan Negeri Deli Serdang Dr Jabal Nur kepada Tersangka Hasan Basri Sihaloho," kata Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam keterangan tertulis, Jumat (12/11/2021).

Adapun pemberlakuan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice dilakukan Kejari Deli Serdang setelah dilakukannya mediasi dan perdamaian antara korban penganiayaan Melda Nova Sembiring dan tersangka Hasan Basri Sihaloho. Dalam kasus tersebut, saksi korban Melda Nova Sembiring mencabut laporannya pada Polsek Tanjung Morawa.

"Setelah pemberian SKP2 kepada tersangka dari Kepala Kejaksaan Negeri Deli Serdang, tersangka langsung meminta maaf kepada saksi korban dan suaminya yang disaksikan oleh penyidik dan tokoh masyarakat," katanya.

Sementara itu, Burhanuddin menyampaikan pesan khusus kepada korban maupun tersangka setelah diserahkannya SKP2. Burhanuddin mengatakan, setelah diserahkan SKP2, tersangka dapat kembali berkumpul dengan keluarga dan perkaranya telah dihentikan berdasarkan keadilan restoratif.

"Jaksa Agung juga menyampaikan bahwa dengan dikeluarkannya Pedoman Nomor 15 Tahun 2020, menunjukkan 'hukum tidak lagi tajam ke bawah' tetapi 'hukum harus tajam ke atas dan tumpul ke bawah', karena dengan restorative justice ini lebih menyentuh rasa keadilan di masyarakat kecil," kata Leonard.

Burhanuddin juga mengingatkan jajarannya untuk tidak menyalahgunakan bentuk kebijakan restorative justice tersebut.

"Mengingatkan kepada seluruh jaksa maupun pegawai Kejaksaan untuk tidak melakukan perbuatan tercela dalam pelaksanaan proses restorative justice. Jaksa Agung mengingatkan 'jangan mencederai masyarakat'. Dan ingat, 'masyarakat amat mendambakan penegakan hukum yang berkeadilan dan berkemanfaatan'," kata Leonard.

Kasus itu bermula pada Kamis, 7 Oktober 2021, sekitar pukul 18.00 WIB, bertempat di Pasar XIV Dusun VII Desa Limau Manis, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Saat itu terjadi perdebatan antara saksi korban Melda Nova Sembiring (selaku pembeli) terjadi perdebatan tawar-menawar pembelian harga daging kikil yang ditimbang dengan tersangka Hasan Basri Sihaloho (selaku pedagang/penjual daging).

Akibat tawar-menawar tersebut, Tersangka Hasan Basri Sihaloho emosional dan memukul saksi korban Melda Nova Sembiring sebanyak sekali dengan tangan kanan tersangka yang mengenai tulang rahang sebelah kanan saksi Korban, sehingga saksi korban mengalami luka memar di bagian tulang rahang wajah sebelah kanan.

Kemudian korban melaporkan tersangka Hasan Basri ke pihak kepolisian dan telah dinyatakan lengkap serta tersangka telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Deli Serdang oleh penyidik. Tersangka Hasan Basri Sihaloho dipersangkakan Pasal 351 KUHP. Sementara itu, saat ini kasus tersebut telah dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice.