Viral Mahasiswa Universitas Jambi Adu Jotos Vs Sopir Pribadi WR III

Ferdi Almunanda - detikNews
Senin, 22 Nov 2021 18:18 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Ilustrasi pengeroyokan (Dok. detikcom)

Klarifikasi WR III Universitas Jambi

WR III Unja Teja Kaswari mengaku dalam insiden tersebut sopirnya juga ikut dipukul dan dikeroyok mahasiswa. Pihaknya berniat membuat laporan balik.

"Kita sampaikan ya, kalau di sini jika mereka ada membuat laporan ya silakan, nanti kita lihat juga dan akan memberikan laporan balik, karena sopir saya juga alami lebam di bagian mata, lalu batuk mengeluarkan darah," tuturnya.

Dia mengatakan saat itu dirinya tak bersama sopir di dalam mobil tersebut.

Karena jika sopir saya yang melakukan penyerangan duluan, saya rasa wajar saja mungkin karena kesal kali ya, padahal sudah dijelaskan jika ia tidak bersama saya. Dan sedang menjalankan tugas yang lain, tetapi karena dihalangi saya rasa ia kesal. Dan itu semua kita serahkan saja semuanya bagaimana di kepolisian," kata Teja.

Teja juga menyampaikan sebelum mahasiswa jalankan aksi, dirinya sebagai WR III Unja sudah melakukan dialog, terkait tuntutan mahasiswa untuk meminta pihak rektorat mencabut Surat Rektor Nomor 2377/UN21/KM.05.03/2021 perihal penyampaian nama calon Plt Ketua BEM Universitas dan Fakultas kepada Dekan di lingkungan Universitas Jambi.

"Kan sebelumnya Ketua MAM dan Ketua BEM demisioner sudah melakukan dialog dengan saya. Dan saya kan juga sudah jelaskan secara lengkap mengapa surat 2377/UN21/KM.05.03/2021 tersebut dikeluarkan oleh rektor. Ya, ini salah satunya adalah untuk mengisi kekosongan BEM yang sudah habis masa kepengurusannya," ujar Teja.

Teja juga menyebutkan bahwa MAM tidak dilibatkan dalam hal ini karena sesuai dengan Peraturan Rektor Nomor 4 Tahun 2018, Pasal 18 tentang Wewenang MAM ayat c dan d. Bahwa Plt ketua dan wakil ketua BEM diusulkan oleh MAM jika terjadi pemberhentian Ketua dan Wakil ketua BEM Unja. Namun, dalam kasus ini, periodisasi kepengurusan BEM memang sudah berakhir, bukan diberhentikan.

"Masa jabatan BEM Unja ini kan berakhirnya di bulan September 2021. Jadi pemilihan nama calon itu berdasarkan aturan yang ada dan sudah sesuai, tidak ada persoalan adanya dugaan-dugaan intervensi atau segala macam," sebut Teja.

Teja berharap persoalan kericuhan yang sempat viral itu bisa berakhir damai.

"Kita harapkan yang terbaiklah intinya, tetapi jika tidak juga ya, saya lihat sopir saya juga dikeroyok, tentu nanti juga akan lakukan pelaporan balik kan. Namun yang maunya saya ini bisa baik-baik semuanya," ucap Teja.


(jbr/jbr)