Bagi Martorejo, Letusan Merapi Bukan Ancaman, tapi Sapaan
Selasa, 25 Apr 2006 18:11 WIB
Jakarta - Sepanjang hidupnya, berkali-kali Martorejo menyaksikan letusan Merapi. Dia harus pontang-panting mengungsi untuk menghindari bahaya. Namun seperti warga lereng Merapi lainnya, dia menganggapnya bukan sebagai ancaman, melainkan sapaan. Martorejo adalah warga kampung Stabelan, Desa Tlogolele, Selo, Boyolali. Kampung tersebut tercatat sebagai kawasan hunian tertinggi dan jarak hunian terdekat di lereng Merapi. Jaraknya dengan puncak hanya sekitar 3,5 km. Dia tidak tahu dengan pasti tahun berapa dia dilahirkan, apalagi tanggal dan bulannya. Yang diingatnya adalah pada saat Merapi meletus tahun 1934, saat itu usianya sekitar 12 tahun. Mungkin dia dilahirkan sekitar tahun 1922. Karenanya usianya yang sudah lanjut itulah, saat ini Marto harus rela mengungsi lebih awal. Dia saat ini adalah salah satu dari 170 warga lereng Merapi daerah Boyolali yang sudah mengungsi di Bungalow milik Pemkab di dekat Kecamatan Selo. Para pengungsi awal ini terdiri dari balita, ibu hamil, warga lanjut usia dan warga sakit. "Dulu mengungsi tidak ada yang mengarahkan dan menampung. Semua inisiatif sendiri untuk menyelamatkan diri," papar Martorejo dalam bahasa Jawa ketika ditemui detikcom, Selasa (25/4/2006). Dengan suara tersendat-sendat, Marto lalu menuturkan pengalamannya ketika pertamakali menjad korban letusan Merapi tahun 1934. Dalam kondisi gelap gulita karena tebalnya hujan abu, dia mengikuti keluarga dan para kerabatnya mengungsi ke Sawangan, Magelang. Kilatan sinar dengan suara layaknya cemeti yang disabetkan, didengarnya dengan jelas. Demikian pula suara ledakan sangat keras di puncak Merapi setelahnya sebagai tanda letusan. "Setiap Mbah Petruk hendak menggelar hajatan, selalu didahului dengan kilatan cahaya seperti itu," paparnya. Warga Merapi mempercayai bahwa Merapi dijaga oleh sosok makhluk halus bernama Mbah Petruk. Rasa hormat mereka kepada penunggu itu, hingga mereka tidak pernah menyebut langsung kata 'letusan' namun dicari kata pengganti 'menggelar hajatan'. Mereka menggambarkan bahwa setiap terjadi letusan, maka di saat itu Mbah Petruk sedang duwe gawe atau menggelar hajatan. Martorejo dan seluruh warga Stabelan sebenarnya yakin bahwa sampai kapan pun desanya aman dari bahaya letusan karena daerahnya terlindung kekuatan mistis Merapi. "Dusun kami sudah dirajeg wesi (dipagari kokoh) serta dipasangi singkir geni (penolak bahaya berupa api) oleh Mbah Bagor, cikal-bakal yang membuka perkampungan kami," papar dia yakin. "Lagipula kalau diibaratkan orang, letak Stabelan itu tepat berada di bawah kemaluan. Meskipun dekat, bagian di bawah kemaluan justru tidak terkena kencing itu," ujar Mulyono, warga Stabelan lain yang juga seumur Marto dan juga berada di pengungsian tersebut. Jika yakin aman mengapa harus mengungsi setiap kali terjadi letusan? Untuk pertanyaan itu mereka mempunyai jawaban yang cukup arif, yaitu siapa pun juga orangnya tidak menyombongkan anugerah yang dimiliki. Lagipula jika tetap berada di kampung bisa dinilai menantang datangnya mara bahaya. Dari sembilan kali letusan sejak tahun 1934 hingga 2001, kata Marto, tidak sekali pun kampungnya dilanda lahar, lontaran meterial maupun awan panas. Letusan tahun 1954 memporak-porandakan kampung Pencar, tidak jauh dari kampungnya. Namun lagi-lagi Stabelan aman. "Kami masih yakin kalau pun Mbah Petruk akan menggelar hajatan lagi, kampung kami akan tetap terlindungi. Anak-anak saya sekarang masih menetap di sana dan begitu nanti ada tanda-tanda perlu meninggalkan kampung mereka akan melakukannya dengan selamat," ujar Marto. "Sejauh ini tanda-tanda itu belum kami lihat, yaitu terjadinya kilatan di puncak dengan suara mirip cemeti yang disabetkan. Ini tanda yang kami percayai secara turun-temurun," lanjut kakek yang mempunyai lima anak, sepuluh cucu dan delapan cicit tersebut. Gunung DitakutiDalam sejarah peradaban manusia Jawa, Merapi memang mendapat tempat tersendiri. Gunung tersebut telah dipercaya memiliki kekuatan fisik maupun metafisik yang sangat mencengangkan. Nama Merapi berasal dari Bahasa Jawa Kuno mar-apuy yang artinya selalu berapi. Dimungkinkan penamaan itu didasarkan pada kondisinya yang selalu aktif dan siap memuntahkan kandungan isi perut bumi. Para ilmuwan meyakini Candi Borobudur yang megah dan gagah itu sempat berabad-abad terkubur abu letusan Merapi hingga ditemukan seorang peneliti Belanda. Demikian pula dengan Candi Prambanan. Mpu Sindok juga perlu memindahkan pusat kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno ke Jawa Timur karena kerajaannya di Jawa Tengah rusak total dihantam amukan Merapi. Sedangkan korban terbanyak yang sempat tercatat dalam sejarah menyebutkan lebih dari tiga ribu orang meninggal akibat letusan Merapi pada tahun 1672. Di masa Mataram Islam, Gunung Merapi bersama Gunung Lawu dan Samudra Hindia mendapat perlakuan khusus sebagai pusat kekuatan mistik pendukung kekuatan mistis kraton. Baik Kraton Surakarta maupun Yogyakarta selalu menggelar ritual khusus di puncak gunung tersebut secara periodik. Dalam sejarah politik Indonesia, kawasan ini juga sempat menggegerkan dengan muculnya sebuah kelompok berhaluan kiri radikal bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC) yang pernah merepotkan Pemerintah dengan aksi-aksi kekerasannnya pada tahun 1950-an.
(asy/)











































