5 Siswa SMK Penerbangan di Batam Diduga Dianiaya Pakai Rantai

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Sabtu, 20 Nov 2021 13:30 WIB
Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhart (dok. istimewa)
Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhart (Foto: dok. istimewa)
Batam -

Polisi menyelidiki kasus lima siswa SMK Penerbangan Dirgantara di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), yang diduga menjadi korban penganiayaan. Mereka diduga mendapat kekerasan menggunakan rantai.

"Ada beberapa perlakuan yang dialami korban, seperti kekerasan verbal, kekerasan fisik, termasuk kekerasan dengan menggunakan rantai terhadap anak didik tersebut," ujar Kabid Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhart melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/11/2021).

Kasus ini teregister dalam laporan polisi (LP) bernomor LP-B/138/XI/2021/SPKT-Kepri. LP itu dibuat pada 19 November 2021.

Harry mengungkapkan kelima korban itu berinisial IN, SA, RA, GA, dan FA. Polisi telah melayangkan permintaan untuk dilakukan visum hingga menyita bukti berupa foto korban sedang dirantai.

"Ditreskrimum Polda Kepri sudah melayangkan surat untuk permintaan visum et repertum, kemudian juga sudah melakukan penyitaan terhadap dokumen foto korban saat dirantai," katanya.

Lebih lanjut Harry mengungkap dugaan sementara dari hasil pemeriksaan awal. Menurutnya, kelima siswa SMK Penerbangan Dirgantara tersebut telah mendapat kekerasan sejak masih di tingkat kelas I.

"Dari hasil pemeriksaan sementara, para korban ini mendapatkan perlakuan kekerasan sejak kelas I sampai korban kelas III. Dan mereka mendapatkan perlakuan kekerasan dikarenakan adanya pelanggaran yang mereka buat," papar Harry.

"Tentunya, dengan kejadian ini, kita sangat prihatin. Di dalam dunia pendidikan kita masih ada, dan terjadi hal-hal yang seperti ini yang sebenarnya tidak boleh terjadi. Dan tentu juga proses penyidikan terhadap kasus ini terus berjalan dan apabila nanti telah ditemukan dua alat bukti yang kuat, penyidik akan meningkatkan proses penyelidikan menjadi penyidikan," sambungnya.

Sementara itu, Direskrimum Polda Kepri Kombes Jefri Ronald Parulian Siagian mengatakan pihaknya sudah mendatangi langsung lokasi kejadian dugaan penganiayaan tersebut. Jefri mengungkapkan pihak terlapor maupun pelapor diundang untuk diperiksa supaya bisa mengetahui kejadian secara lebih jelas.

"Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, langkah ini merupakan bentuk respons cepat dari kami dalam menindaklanjuti pemberitaan terkait dengan adanya dugaan tindak pidana penganiayaan yang terjadi. Kami juga telah melakukan penyelidikan di lapangan dengan mendatangi lokasi kejadian, kemudian juga kami juga mengundang masing-masing pihak terkait dan juga mengetahui secara langsung kejadian yang menimpa para korban ini," kata Jefri.

Polisi masih menyelidiki kasus ini untuk mengungkap pelaku penganiayaan. "Untuk pelaku masih dalam proses penyelidikan. LP (laporan) baru dibuat kemarin, saat ini penyidik sedang bekerja mengumpulkan seluruh alat bukti," ujarnya.

Adapun para pelaku terancam dijerat Pasal 80 juncto Pasal 76 huruf C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak, dan Pasal 354 KUHP tentang Penganiayaan Berat. Pelaku terancam hukuman di atas 5 tahun penjara.

(drg/idh)