Raker HAPSI, Ketua DPD RI Singgung Rendahnya Tingkat Wirausaha di RI

Erika Dyah - detikNews
Jumat, 19 Nov 2021 23:18 WIB
LaNyalla Minta Pemerintah Usut Tuntas Kebakaran Kilang Minyak Cilacap
Foto: DPD
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menilai jumlah wirausahawan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga. Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) Himpunan Artis Pengusaha Seluruh Indonesia (HAPSI).

"Tingkat entrepreneurship kita memang masih rendah, sekitar 3,47% dari total penduduk. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, tingkat kewirausahaannya sudah di angka 4 koma. Singapura yang tertinggi, sudah 8,76%," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Jumat (19/11/2021).

Oleh karena itu, LaNyalla mengapresiasi lahirnya HAPSI. Menurutnya, artis pengusaha memiliki profil istimewa karena kemampuan seorang artis dalam membangun kemandirian di dunia usaha.

"Artis berarti seniman yang berkiprah di berbagai profesi. Mereka bekerja untuk khalayak ramai agar masyarakat merasa terhibur, merasa senang, merasa bertambah pengetahuannya," ujarnya.

Ketua Dewan Penasehat KADIN Jatim ini mengakui jika bayaran artis Tanah Air memang menjanjikan. Apalagi jika wajahnya kerap seliweran di layar kaca sebagai bintang sinetron stripping dan sinetronnya merajai prime time. Ia menambahkan artis yang sedang naik daun bahkan bisa membintangi 2-3 sinetron secara bersamaan.

Ia mengatakan jika bekerja sejak pagi hingga malam, maka penghasilan seorang artis bisa fantastis. Karenanya, stigma hidup glamor dan hedon kerap melekat erat di kehidupan artis untuk mendukung penampilannya tetap hits. Mulai dari rumah, mobil, pakaian, dan perhiasan mewah serta aksesori serba branded yang melekat di tubuh para artis.

"Namun, roda kehidupan terus berputar. Kenyataannya, tidak semua artis bernasib mujur. Sebagian bernasib pilu di masa tua, sebagian bahkan mengalami di usia yang masih relatif muda. Tak jarang terdengar kabar prihatin. Dulu tenar dan kaya raya di masa jaya, kini hidup merana," tuturnya.

Senator asal Jawa Timur itu menyebutkan turunnya pamor artis bisa terjadi karena sejalan dengan waktu, generasi pun silih berganti sehingga selera publik bisa berubah. Oleh karena itu, popularitas seorang artis yang sempat diraih bisa meredup sekejap karena wajah baru terus berdatangan.

Untuk itu, LaNyalla berpandangan bahwa pilihan hidup yang tepat di masa jaya bagi seorang artis ialah memiliki investasi di ragam bisnis.

"Berani meninggalkan zona nyaman dalam area flash dan blitz kamera," katanya.

LaNyalla berharap HAPSI dapat menjadi contoh bagi para artis. Sebab menurutnya, status selebritas tak selamanya menjamin hidup sukses, rezeki lancar, dan badan sehat.

"Seperti saya sebut tadi, artis pengusaha memiliki profil istimewa. Praktis jumlah artis pengusaha menambah jumlah pengusaha di Tanah Air," ucapnya.

Ia pun mengapresiasi inisiatif para artis yang mendeklarasikan HAPSI pada 27 Januari 2017 di Crowne Plaza Jakarta, sekaligus pengukuhan para pengurus.

"Kurang lebih empat tahun, saya mengamati kiprah HAPSI untuk ikut serta menjaga kedaulatan ekonomi kita. Fokus itu memang tepat, karena kita mesti bersungguh-sungguh mewujudkan kedaulatan ekonomi," ungkapnya.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh tergantung kepada pihak eksternal. Ia menekankan agar bangsa ini dapat tetap berdiri tegap, tidak bisa ditekan, dan dipermainkan begitu saja.

"Untuk mencapai kedaulatan ekonomi, salah satunya dengan memberdayakan dan memperkuat Usaha Kecil dan Menengah. Karena UKM berada di lapisan bawah, sehingga kita bisa membangun struktur ekonomi piramida, bukan kotak atau kubus," tegasnya.

Ia menilai badai ekonomi maupun moneter akan mampu dihadapi dengan struktur ekonomi piramida.

(ncm/ega)