Letusan Tahun 1961 Membuat Sleman Gelap Gulita

Kenangan Letusan Merapi

Letusan Tahun 1961 Membuat Sleman Gelap Gulita

- detikNews
Selasa, 25 Apr 2006 12:10 WIB
Yogyakarta - Letusan Merapi pada tahun 1961 diyakini sebagai letusan terbesar setelah tahun 1930-an. Saat meletus pada 8 Mei 1961, wilayah Kabupaten Sleman dan sekitarnya gelap gulita, akibat terkena hujan abu yang cukup besar. Sebelum letusan 8 Mei, Merapi mengeluarkan letusan berkali-kali sejak 20 April pukul 06.00 WIB. Materialnya menuju arah selatan."Meletusnya berkali-kali, keadaannya jadi gelap gulita meski pagi hari sekitar jam 07.00, tapi dari atas terdengar suara gemuruh berkali-kali," kata Hardjosurat , warga Dusun Gondoarum, Desa Girikerto Turi, Sleman kepada detikcom, Selasa (25/4/2006).Hardjo yang sudah berusia 74 tahun ini mengisahkan, saat Merapi meletus, para tetangga langsung membunyikan kentong 'titir' berkali-kali. saat itu Merapi meletus berkali-kali dan selama hampir 2 minggu lamanya terus meletus. Arah luncuran awan panas saat itu ke Kali Batang dan Kali Bebeng, sekitar 5 kilometer dari tempat tinggalnya. "Selama satu hari itu, Merapi meletus berkali-kali pagi hingga siang hari pukul 15.00," kata Hardjo yang sudah tidak ingat hari dan tanggal peristiwa itu.Dia mengungsi bersama istri dan dua orang anaknya serta ratusan warga yang tinggal di daerah Tunggularum lama, Gimbal, Pathuk, Gondangrejo, Bangkerep. Hanya beberapa lembar pakaian yang dibawa. Sedang dua ekor sapi dan enam ekor kambingnya ditinggalkan begitu saja.Hardjo bersama keluarganya mengungsi dengan berjalan kaki menuju Dusun Watuadeg, Desa Pakembinangun, Sleman, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari rumahnya. Saat itu kondisi jalan desa masih belum beraspal, hanya jalan berbatu dan tanah. "Karena hujan abu, kami memakai payung dari blarak (daun kelapa), tapi lama-kelamaan jadi berat karena terkena debu Merapi. Muka dan badan juga jadi putih keabu-abuan," katanya.Namun ketika sampai di barak pengungsian di Pakembinangun, ternyata sudah ada ribuan orang. Dia bersama keluarganya terpaksa menumpang di rumah warga di Dusun Surodadi, Desa Donokerto Turi yang terletak beberapa ratus meter dari barak.Menurut Harjo, hampir semua dusun di Girikerto di bagian atas seperti Dusun Gimbal, Tunggul lama, Gondangrejo, Pathuk, Dukuhan, Bendo dan Mbangkerep habis terbakar terkena awan panas. Rumah-rumah roboh, rata dengan tanah dan pohon-pohon terbakar hangus. "Saat itu saya kehilangan saudara ipar saya warga Gimbal. Dia tidak mau mengungsi, sedang istri dan anaknya sudah lari ke bawah," kata dia. Setelah aman, kata dia, sehari kemudian dia bersama keluarganya kembali ke dusun. Genting rumah dan halaman sudah penuh dengan debu setebal 1 centimeter. Beberapa rumah dan pohon ada yang roboh dan terbakar. Namun hewan ternak yang ditinggal masih selamat. Namun karena tidak ada air dan karena penuh dengan debu, akhirnya sapi dan kambingnya dibawa turun untuk dijual di pasar. "Mau dikasih makan pakai apa, rumput dan tanaman penuh debu dan tak ada air," katanya. Dia kemudian menuju Dusun Gimbal, yang terletak diatas dusun Tunggul lama. Dia mencari saudara iparnya itu. Di reruntuhan rumah, saudara iparnya itu dia temukan sudah menjadi mayat. "Badannya hangus dan langsung dikubur di halaman rumah itu juga," katanya.Setelah aman, kata Hardjo, dusun-dusun yang terkena awan panas oleh warga tidak ditinggali lagi. Warga Dusun Gimbal dan Tunggul lama kemudian berpindah di sebelah selatan Kali Bedhog sekitar 500 meter dari dusun lama. Sedangkan Dusun Pathuk, Gondangrejo, Dukuhan, Mbangkerep, Bendo atas saran pemerintah saat itu tidak ditinggali lagi. Warga tinggal di lereng bawah yang lebih aman, sekitar 1 kilometer dari dusun lama. "Dusun itu yang sekarang jadi wilayah Kumpulrejo itu sudah jadi kawasan hutan dan tegalan. Tidak ada yang berani tinggal di situ lagi," kenang Hardjo.Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads