Warga Diminta Belajar dari Kenaikan Kasus COVID di Nataru Tahun Lalu

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 22:12 WIB
Menkominfo Johnny G Plate di sela-sela rapat Komisi I DPR, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/8/2021).
Foto: Menkominfo Johnny G Plate (Rolando/detikcom)
Jakarta -

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menegaskan kebijakan pembatasan mobilitas jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) ditetapkan untuk menghindari kenaikan kasus COVID-19 secara signifikan, seperti yang terjadi pada tahun lalu.

"Mari berjuang agar Indonesia berhasil melewati Nataru dengan level penyebaran COVID-19 yang terkendali," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (15/11/2021)

Menurutnya, semua pihak patut mensyukuri kondisi kasus COVID-19 di Indonesia yang saat ini telah menurun drastis dibandingkan periode puncak pada Juli 2021. Namun, Johnny mengingatkan masih banyak ketidakpastian yang harus dihadapi, terutama di tengah periode libur Nataru yang sebentar lagi datang.

Belajar dari pengalaman, Johnny menguraikan libur hari besar selalu memicu kenaikan kasus COVID-19 di Tanah Air. Kenaikan kasus tidak hanya terjadi pada kasus harian, namun pada kasus mingguan yang bertahan cukup lama.

Ia memaparkan berdasarkan data Satgas COVID-19, periode libur lebaran Idulfitri pada 2020 memicu penambahan sekitar 68%-93% kasus harian baru dan penambahan kasus mingguan di kisaran 2.889 kasus-3.917 kasus. Sementara itu, libur kolektif Maulid Nabi dan Natal tahun 2020 tercatat memicu penambahan 37%-95% kasus harian baru dan penambahan kasus mingguan sebanyak 8.096-38.340 kasus.

"Kenaikan ini diperparah adanya varian Delta yang lebih mudah menular dibanding varian sebelumnya," ujarnya.

Johnny mengungkapkan kenaikan kasus umumnya disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, peningkatan mobilitas yang tidak dibarengi dengan upaya testing yang cukup. Kewajiban testing merupakan langkah preventif untuk memastikan pelaku perjalanan dalam kondisi sehat dan tidak menularkan virus ke daerah tujuannya.

Kedua, lemahnya disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dalam perjalanan maupun aktivitas selama liburan.

Hal ini erat kaitannya dengan tradisi berkumpul, makan bersama, maupun tradisi keagamaan yang meningkatkan peluang penularan akibat kerumunan. Selain itu, peningkatan aktivitas di pusat belanja, tempat rekreasi, dan fasilitas publik lainnya, juga menjadi pemicu.

"Kita tidak ingin kenaikan kasus COVID-19 seperti yang terjadi di masa lalu, terulang kembali. Karenanya, berbagai pembatasan mobilitas jelang Nataru harus ditetapkan untuk diterapkan," kata Johnny.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat ikut berkolaborasi dan bekerja keras untuk tetap disiplin protokol kesehatan, menyegerakan vaksinasi, menggunakan aplikasi PeduliLindungi, menjalankan testing, dan patuh aturan pembatasan mobilitas jelang Nataru.

"Kepedulian dan kedisiplinan kita amat dibutuhkan dalam menghadapi pandemi. Ingatkan juga kepada orang lain agar mematuhi protokol kesehatan dan segera ikut vaksinasi," pungkasnya.

(ncm/ega)