Waket MPR Sebut 3 Kriteria Pahlawan yang Ideal untuk Kontestan Pilpres

Erika Dyah - detikNews
Senin, 15 Nov 2021 22:35 WIB
Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad mengungkapkan gaung pesta politik sudah terasa dari sekarang. Padahal pelaksanaannya masih tiga tahun lagi, yakni di tahun 2024 nanti.

Menurutnya, hal ini semakin terasa dengan munculnya nama sejumlah kandidat calon karena dukungan dari berbagai pihak untuk maju di Pilpres 2024. Selain itu, ia mengatakan berbagai spanduk dan baliho dari beberapa figur tertentu juga sudah mulai hadir di berbagai daerah.

"Menurut saya, fenomena tersebut wajar-wajar saja asal tidak menyalahi aturan yang sudah ditetapkan mengenai pemilu dan pilpres," kata Fadel dalam keterangannya, Senin (15/11/2021).

Hal ini ia sampaikan dalam Diskusi Empat Pilar MPR dengan tema 'Menebar Nilai Kepahlawanan dalam Kontestasi Politik Nasional'. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR bekerja sama dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, di Media Center MPR/DPR/DPD, Lobi Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Pimpinan MPR dari Kelompok DPD perwakilan daerah Gorontalo ini menekankan hal terpenting yang harus diperhatikan para calon, yakni tujuan mereka untuk maju Pilpres. Menurutnya, tujuan itu harus murni untuk kepentingan bangsa dan negara, serta ingin mengantarkan rakyat Indonesia menuju kesejahteraan bersama.

"Itu yang harus tertanam dalam diri para calon kontestan," imbuhnya.

Untuk mencapai hal tersebut, lanjut Fadel, kontestan politik mesti meneladani karakter para pahlawan bangsa yang sangat luar biasa. Menurutnya, para calon harus berupaya memiliki kriteria para pahlawan. Ia pun menyebutkan kriteria yang pertama, yakni memiliki semangat juang yang tinggi dan begitu kuat sehingga tidak akan goyah oleh godaan apapun.

Kedua, pengaruh. Ia menilai para pahlawan bangsa memiliki pengaruh yang kuat di daerahnya. Menurutnya, pengaruh inilah yang digunakan para pahlawan untuk tujuan baik dan mempercepat tujuan bersama yakni, melawan penjajahan dan menuju kemerdekaan. Selanjutnya, Konsisten. Para pahlawan bangsa sangat konsisten memegang teguh dan menjalankan visi misinya sampai berhasil.

"Kriteria itu yang kita harapkan ada pada diri para kontestan politik nanti. Saya melihat, memang bukanlah hal yang mudah mencari dan menemukan sosok ideal seperti itu. Apalagi kontestasi nanti, diprediksi akan sangat kompleks, kompetisinya sangat ketat. Namun, kita semua akan berusaha dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa, saya yakin bisa," paparnya.

Dalam kesempatan ini, Fadel mengungkap bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan calon-calon pemimpin yang kriterianya seperti para pahlawan bangsa.

"Malah sebenarnya banyak sekali tokoh-tokoh inspiratif bagus terutama dari daerah-daerah. Yang jadi masalah adalah, kita kurang mempromosikan mereka, kurang memberi ruang ke tingkat nasional sehingga kurang dikenal rakyat. Padahal, kemampuan para tokoh ini sangat bagus," kata Fadel.

"Untuk itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat jeli memperhatikan tokoh-tokoh yang baik dan pantas untuk kemudian diberi ruang dan kesempatan maju membuktikan kapabilitas dirinya," tambahnya.

Sementara itu, di kesempatan yang sama, anggota MPR RI Fraksi Demokrat Herman Khaeron menegaskan bahwa dirinya sangat menyetujui bahwa calon kontestan politik apalagi di tingkat nasional harus memiliki kriteria ideal para pahlawan bangsa.

"Karena bagi saya, pahlawan itu terminologinya adalah seseorang yang mampu mencurahkan daya dan pikirannya bahkan jiwanya untuk negara tanpa hitung-hitungan. Bagi pahlawan, berkontribusi untuk negara itu lebih penting. Saya setuju memang, menemukan figur seperti itu di era saat ini sangat sulit," ujar Herman.

Untuk itu, Herman berharap sistem politik Indonesia, termasuk untuk pemilu dan pilpres, mesti dibuka ruang seluasnya. Harapannya, hal ini membuat siapapun bisa berpartisipasi aktif dan tak lagi membatasi kesempatan. Terlebih, ia menilai adanya Parliamentary Threshold dan Presidential Threshold yang menghimpit membuat ruang gerak untuk berkiprah dipersempit.

"Jika sistem politik kita terbuka, maka akan membuka peluang lebih besar bagi tokoh ideal dengan kriteria pahlawan masuk dalam kontestasi. Pada ujungnya, jika terpilih melalui kompetisi yang jujur dan adil, akan membawa bangsa ini menjadi negara maju serta mampu berkompetisi dengan negara lainnya," pungkasnya.

Sebagai informasi, diskusi ini turut dihadiri pula oleh pakar politik Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA sebagai narasumber serta para wartawan baik cetak, elektronik dan online sebagai peserta.

(fhs/ega)