Duarr! Gumpalan Awan Hitam Pekat Tutupi Langit

Kenangan Letusan Merapi

Duarr! Gumpalan Awan Hitam Pekat Tutupi Langit

- detikNews
Senin, 24 Apr 2006 15:24 WIB
Jakarta - Bagaimana sih suara gunung meletus? Bagi Risna Dirgoharjoso, letusan Merapi terdengar seperti letusan ban pecah. Begitu meletus, puncak Merapi sempat tidak mengeluarkan apa-apa. Namun, beberapa saat kemudian, awan hitam pekat menggumpal begitu cepat menutupi langit. Demikian Risna mengisahkan kejadian yang dialaminya saat Gunung Merapi meletus pada tahun 1994, dalam e-mailnya yang dikirimkan ke redaksi detikcom, Senin (24/4/2006). Risna mendengar letusan Merapi seperti letusan ban, karena jarak tempat tinggal Risna tidak terlalu dekat dengan Puncak Merapi. Tahun 1994, Risna tinggal bersama orangtuanya di salah satu kaki Gunung Merapi, di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Risna yang kini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta ini cukup khawatir dengan kondisi Merapi akhir-akhir ini. "Saya terus terang khawatir sekali membaca mengenai aktivitas Gunung Merapi yang semakin meningkat ini. Meskipun seperti yang diberitakan di detikcom, Kecamatan Cangkringan malah digunakan untuk pengungsian," kata Risna. Setiap waktu Risna pun menghubungi ibundanya dan menanyakan tentang keadaan di Cangkringan. "Tapi, ibu saya mengatakan bahwa keadaan di rumah baik-baik saja, malah SDN Kiyaran dan Balai Desa Wukirsari digunakan untuk pengungsian. Yah saya merasa sedikit tenang," tulis Risna yang berkantor di Jl. MT Haryono, Jakarta, ini.Risna teringat betul dengan letusan Merapi tahun 1994. Saat itu, dia duduk di bangku kelas V SDN Watuadeg. "Pada waktu itu, saya dan teman-teman sedang istirahat kedua. Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Awalnya kami kira itu suara ban kendaraan yang pecah di jalan yang ada di samping sekolah kami. Terus, salah satu dari temen kami teriak, 'Opo Gunung Merapi njeblug yo? (Jangan-jangan Gunung Merapi meletus?)," kenang Risna. Setelah ada ledakan itu, Risna bersama teman-temannya langsung berlarian menuju jalanan di utara gedung sekolah. "Kami melihat terus ke arah Merapi yang kebetulan sedang tidak tertutup awan. Tapi tidak ada apa-apa di gunung tersebut, kami pun menunggu sampai beberapa menit, tapi tidak ada yang berubah. Akhirnya kami kembali ke sekolah kami dan kebetulan saat itu langsung pulang," ujar dia.Setelah itu, apa yang terjadi? Saat dalam perjalanan menuju rumahnya, Risna melihat di bagian langit bagian utara sudah menggumpal awan hitam pekat. Awan hitam itu terus naik semakin tinggi dan meluas. Bahkan, Risna seakan-akan dikejar oleh awan hitam itu. "Saya pulang, ingat betul. Saat itu, itu saya pulang ke arah selatan, dan saya berjalan sambil mundur saking bingungnya melihat apa yang terjadi. Saya mencari tempat yang bisa untuk melihat ke arah gunung dengan jelas, ternyata bagian atas Merapi sudah menghitam, keluar terus asap hitam itu," kisah Risna.Sesampai di rumah, Risna pun menceritakan kejadian yang dilihatnya itu. Setelah dua jam dari suara letusan, lama-kelamaan puncak Merapi sudah tidak memunculkan asap hitam itu. Yang agak mengkhawatirkan saat itu, ujar Risna, ayah dan adiknya sedang berada di jalanan menuju Klaten. "Melewati Sungai Boyong, adik saya (kata bapak saat itu) nangis minta pulang karena takut sekali. Untung saja, di daerah tempat kami tinggal tidak terjadi apa-apa. Kami aman," ujar dia.Bagi Anda, para pembaca detikcom, yang mempunyai kisah-kisah mengenai letusan Merapi di masa lampau, bisa berbagi cerita kepada redaksi. Kirimkan saja kisah Anda melalui e-mail: redaksi@staff.detik.com. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads