Beroperasi dari RI, Siapa Pendana 48 WNA Pelaku Cyber Fraud?

Yogi Ernes - detikNews
Sabtu, 13 Nov 2021 19:43 WIB
Polda Metro Jaya menangkap 48 WNA pelaku cyber fraud di Jakbar
Polda Metro Jaya menangkap 48 WNA pelaku cyber fraud di Jakbar (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Sebanyak 48 warga negara dari China dan Vietnam ditangkap polisi di Jakarta Barat setelah terlibat sindikat penipuan lewat modus aplikasi kencan. Lalu siapa pendana sindikat tersebut?

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Auliansyah Lubis mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menggali keterangan pelaku. Para pelaku masih berkelit perihal pendana hingga otak kelompok tersebut.

"Mereka masih saling tunjuk di antara mereka. Jadi di antara mereka ada salah satu supervisornya, tapi masih kami dalami," kata Auliansyah di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (13/11/2021).


Sebanyak 48 pelaku ini diketahui beroperasi sejak Agustus 2021. Mereka menggunakan sebuah aplikasi kencan dalam menggaet korban.

Menurut Auliansyah, awalnya pelaku seolah-olah mencari jodoh lewat aplikasi itu. Setelah mendapatkan korban, pelaku mulai menjalin komunikasi intensif.

Seiring komunikasi yang makin intens itu, pelaku dan korban lalu terlibat aktivitas seksual lewat medium telepon. Berbekal rekaman dan foto tidak senonoh itu, pelaku melancarkan aksi pemerasannya.

"Setelah direkam, mereka baru lakukan kegiatan pengancaman, apabila korban tidak beri uang ke pelaku, mereka akan sebarkan foto bugil ke korban. Di sini kita temukan ada tindak pidananya," ungkap Auliansyah.

Dari pemeriksaan awal, para korban dari sindikat ini berasal dari negara China dan Taiwan. Namun polisi hingga kini masih mendalami korban dan keterlibatan warga Indonesia dari kelompok tersebut.

Lebih lanjut Auliansyah mengatakan pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dengan modus serupa. Menurut Auliansyah, tidak tertutup kemungkinan di aplikasi pencarian jodoh Indonesia berada kelompok yang melakukan modus kejahatan sama.

"Saya pesan agar kita semua warga masyarakat di Indonesia bijak menggunakan media sosial. Di Indonesia banyak aplikasi cari jodoh, jadi nggak tutup kemungkinan di Indonesia akan terjadi kejahatan telepon seperti WNA lakukan ini," terang Auliansyah.

(ygs/mei)