Muktamar PBR Molor, Persaingan Antarkandidat Memanas
Senin, 24 Apr 2006 10:53 WIB
Sanur - Muktamar Islah Partai Bintang Reformasi (PBR) dipastikan molor satu hari. Dalam agenda, muktamar ini ditutup Senin (24/4/2006) siang ini. Namun, sampai pukul 10.00 WIB, baru satu agenda yang selesai dibahas, yakni tata tertib persidangan. Padahal dalam jadwal, seharusnya pagi ini dijadwalkan pemilihan ketua umum. Namun, agenda yang sudah disusun rapi tersebut meleset semua. Jadwal Senin pagi ini, mulai pukul 10.00 WIB adalah sidang komisi-komisi. Komisi A membahas amandemen AD/ART dan tata cara pemilihan ketua umum, Komisi B program kerja PBR 2006-2011, dan Komisi C pernyataan politik dan rekomendasi."Akibat seluruh agenda molor sehari, mengakibatkan biaya muktamar membengkak. Diperkirakan perlu dana tambahan Rp 800 juta sampai Rp 1 miliar," kata Akhmad Muzani, salah seorang pengurus PBR di sela-sela mengikuti sidang komisi di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Senin (24/4/2006).Pengunduran jadwal disebabkan memanasnya situasi menjelang sidang-sidang pleno dan komisi dalam muktamar PBR. Dua kubu bersaing ketat dalam pemilihan ini, yakni Zaenal Maarif dan Bursah Zarnubi. Kedua kubu ini sejak awal sudah mempersoalkan sistem pemilihan ketua umum.Kubu Zaenal Maarif menginginkan sistem pemilihan one man one vote, sedangkan kubu Bursah Zarnubi menginginkan sistem pemilihan one delegation one vote."Kita akan berjuang habis-habisan di Komisi A untuk mengamankan agar sistem one man one vote digunakan dalam sistem pemilihan ketua umum nanti," kata tim sukses Zaenal Maarif, Ahmad Muzani.Alasannya, kubu Zaenal memprediksi kalau sistem one delegation one vote itu sulit diprediksi. "Tapi kalau sistem one man one vote kita lebih yakin," katanya.Persaingan kedua kubu ini diperkirakan akan memanas di Komisi A yang membahas perubahan AD/ART dan tata cara pemilihan ketua umum. Muktamar PBR ini sudah terlihat panas sejak registrasi peserta, banyak peserta dari berbagai daerah dipersoalkan kepesertaannya. Selain itu, dalam sidang pleno, sempat diwarnai penusukan terhadap salah seorang peserta. Hingga saat ini, masing-masing kandidat terus melakukan lobi-lobi untuk mencari dukungan.
(jon/)











































